Dalam menjalankan ibadah seperti sholat, kita dianjurkan untuk melakukannya dengan tumaninah. Mengapa sholat harus tumaninah? tujuannya adalah agar menjadi khusuk dan fokus pada Allah. Caranya adalah dengan melakukan gerakan sholat yang sempurna dan membaca serta memahami bacaan sholat
Apa sih manfaatnya khusuk? manfaatnya agar pikiran menjadi tenang dan damai sehingga pikiran akan lebih konsentrasi, tindakan kita akan diringi dengan kesadaran tinggi, dan kita bisa mengendalikan pikiran kita. Dengan demikian pikiran kita akan terpusat pada pikiran yang kita pilih dan akan menghasilkan energi yang luar biasa. Itulah sebagian manfaat dari sholat yang rutin kita kerjakan..
Mengapa Allah memerintahkan hambanya sholat? tentunya karena Allah menginginkan kebaikan bagi hambanya. Sholat seyogianya memberikan manfaat besar kepada seluruh kehidupan manusia.
Lalu, apakah ajaran tumaninah pada sholat berkaitan dengan aktifitas kita sehari-hari..??
Ketika pulang tadi sore sambil mengendarai mobil, saya berpikir mengapa terkadang saat kuliah kita sulit memahami materi atau tidak bisa menjawab soal pada saat ujian? saya juga berpikir mengapa harus melakukan rapat berjam-jam dan berkali-kali dan tidak menghasilkan kesepakatan yang paling baik??? mungkin karena aktivitas ini tidak kita lakukan dengan tumaninah..
Contoh saja, ada mahasiswa yang pada saat kuliah terbiasa membuka laptop, walaupun dosen sedang menerangkan didepan kelas, atau ada kebiasaan pegawai atau staf yang membuka laptop pada saat rapat dan melakukan aktifitas yang lain pada laptopnya.

Saya mencoba mengkaitkan ajaran sholat dengan aktifitas tersebut. Saya membayangkan betapa Allah maha pengasih dan penyayang karena sudah mengajarkan umatnya untuk melakukan sholat min 5 kali dalam sehari, apa tujuannya..?? sebagiannya adalah agar terbiasa untuk bisa tumaninah dan khusuk.
Pada saat kuliah kita jelas melihat dosen secara fisik, dan pada saat rapat kita juga melihat pimpinan atau rekan rapat secara nyata.. tapi pada saat sholat kita dilatih untuk “melihat” dan merasakan hal yang tidak terlihat secara fisik yaitu Allah… Jika saja dengan sholat kita bisa khusuk dan tumaninah dengan baik, insha allah untuk kuliah dan rapat bisa lebih mudah karena fokus utamanya jelas terlihat…
Sebuah artikel senada juga pernah saya baca. Artikel ini saya kutip dari Detik.com
Jakarta - Tahukah Anda mengapa meeting selalu berlarut-larut, menjemukan dan hasilnya cenderung tak optimal? Ternyata salah satu penyebabnya adalah karena peserta meeting membawa laptop (ataupun blackberry dan smartphone)! Kok bisa?
Berikut ini 5 (lima) alasannya, berdasarkan pengalaman penulis + sejumlah contoh kasus yang tersedia di Internet:
- Meeting dengan seluruh atau sebagian besar peserta membawa laptop, akan berdampak pada semakin minimnya komunikasi non-verbal antar peserta rapat. Bahasa non-verbal, adalah komponen tak terpisahkan dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan sesama manusia, bahkan antar mahluk hidup. Anggukan kepala, picingan mata, gerak bibir, posisi duduk, letak tangan, adalah hal yang paling penting untuk mengukur tingkat perhatian (ketertarikan) peserta meeting, pemahaman dan lainnya. Meeting pun menjadi berlarut-larut
- Saat pihak lain sedang melakukan presentasi gagasan atau laporannya, maka kecenderungan peserta meeting lainnya yang membawa laptop akan lebih sibuk mengutak-atik materi presentasi masing-masing. Ini adalah akibat dari ketidaksiapan untuk menghadiri meeting, atau minimnya waktu yang tersedia untuk melakukan persiapan tersebut. Menyiapkan ataupun merapihkan materi presentasi saat meeting tengah berlangsung,adalah salah satu bentuk kerja yang kontra-produktif.
- Peserta meeting dengan membawa laptop cenderung akan lebih berinteraksi dengan laptopnya, ketimbang dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya untuk mengusir kebosanan saat meeting, maka mereka akan bermain game, hingga chatting, browsing ataupun blogging apabila ada akses Internet. Walhasil, pihak yang sedang presentasi tidak akan mendapatkan respon yang interaktif. Feedback dari peserta meeting pun menjadi minim, yang akhirnya berdampak pada tidak matangnya output yang dihasilkan.
- Juga dengan adanya akses Internet, maka peserta meeting yang membawa laptop akan cenderung membentuk kelompok kecil eksklusif secara online, yang anggotanya adalah sebagian dari peserta meeting tersebut. Kelompok kecil ini akan membuat diskusi terpisah, melalui fitur messenger, dengan konten diskusi yang bisa jadi tidak konstruktif. Bentuknya pun beragam, bisa sekedar saling melempar joke, sampai membicarakan (dalam konteks negatif) pihak yang sedang melakukan presentasi, materinya ataupun peserta meeting yang lain.
- Meeting seharusnya adalah sebuah bentuk koordinasi ataupun integrasi antar unit/divisi, atau bisa juga sebagai akselerasi ataupun sinkronisasi. Tetapi yang terjadi, ketika peserta meeting membawa laptop, maka dia bisa tergoda untuk melakukan pekerjaan pararel, semisal diselingi dengan menggarap kerjaan lainnya yang tertunda karena harus menghadiri meeting. Aktifitas pararel, bukan berarti dapat berpikir ataupun menganalisis sesuatu secara parerel. Karena otak sejatinya akan berpikir dengan berlompat-lompat, “pause” di satu hal, dan “play” di hal lain. Sehingga buah pikir yang dihasilkan cenderung menjadi tidak optimal lantaran tidak fokus.
Menyaksikan tayangan TV sore hari ini mengenai tayangan Rapat paripurna DPR tentang bank Century membuat saya sedih… Tidak beda rasanya seperti menonton pertandingan bola, dimana penonton masuk kedalam lapangan dan menghajar wasit yang memimpin permainan bola. hmmmmmm…. apa yah yang salah dari kejadian itu…. ???
Saya mencoba merenungi salah satu tulisan yang pernah saya kutip di blog saya “the beauty of mathematics and the love of gods”
Dalam tulisan yang saya baca itu, dinyatakan bahwa attitude merupakan bagian paling penting untuk mencapai tujuan atau kesuksesan selain kerja keras dan pengetahuan. Saya tidak menyangsikan lagi bagaimana kerja kerasnya para wakil rakyat itu (pansus) bekerja untuk mengumpulkan fakta (walau pada kenyataan banyak lebih galak dari hakim…..;). Saya juga tidak menyangsikan pemahaman mereka ttg undang2 atau aturan mengenai rapat paripurna sampai2 ada anggota yang berteriak2 tentang pasal… hmfmfmfmfhhhh
Tapi mengapa yang terjadi pada sidang tersebut mirip seperti penonton bola yang ngamuk masuk lapangan…???? Kejadian ini meyakinkan saya bahwa memang benar, sikap adalah lebih utama. Bos… Bonek ajah bisa nonton tertib di Bandung walaupun main kalah… Knapa…? karena pemda menyikapinya dengan baik…
Saya juga kembali membuka tulisan iseng saya tentang Fotografi Kehidupan. Melihat kejadian DPR, saya juga jadi berpikir, mungkin harus ada syarat untuk menjadi anggota DPR harus bisa fotografi … (lho….
Mari kita ambil hikmah dari setiap kejadian…
Regards.
Yeni
This song is dedicated to my parents….. i’ll always miss u
By : Jim Brickman
You are the air I need to breathe
the river of life inside of me
you are the half that made me whole
you are the anchor of my soul
and you are strong when I am weak
you are the words when I can’t speak
you never fail to see me through
that’s the love I found in you
you are my shelter from the storm
you are the road that leads me home
and baby with you here face to face
Oh I know I’ve found my place
and you are strong when I am weak
you are the words when I can’t speak
you never fail to see me through
that’s the love I found in you
and once in every life
you find the one that’s right
and when you say forever it’s true
That’s the love I found in you
You are strong when I am weak
you are the words when I can’t speak
you never fail to see me through
That’s the love I found in you
That’s the love, love I found in you
Aku anak bungsu dari tujuh bersaudara. Bapakku seorang guru dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku dibesarkan dalam lingkungan sekolah. Sejak bapak ditugaskan sebagai kepala sekolah di smp 1 cimanggis (dulu bernama smp filial cibinong), kami tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Rumah itu adalah rumah dinas dengan 3 buah kamar kecil padahal keluarga kami adalah keluarga besar dengan 7 bersaudara. Rumah itu terletak persis di depan sekolah. Oleh karena itu, aku dibesarkan di lingkungan sekolah. Aku kenal dengan beberapa guru smp sejak aku kecil. Bahkan hampir semua guru SMP mengetahui masa kecilku.
Saat kecil aku tidak mengenyam TK sepertihalnya teman-temanku dulu. Aku beruntung punya banyak kakak yang mau mengajari aku membaca sejak kecil. Saat itu majalah kesenanganku adalah BOBO. Waktu aku belum bisa membaca, kakakku dengan sabar membacakan semua cerita yang ada di majalah tersebut. Karena kebaikan kakakku itu, akhirnya aku sudah bisa membaca ketika masuk SD.
Sejak SD hingga SMP, aku tinggal di rumah dinas itu. Selama aku tinggal di rumah dinas itu, aku selalu merasakan kebersamaan. Walaupun keluargaku keluarga besar, ibu tidak pernah memiliki pembantu. Sebagai seorang PNS dengan keluarga besar, bagi bapak bukanlah hal yang mudah untuk mempersiapkan biaya pendidikan. Oleh karena itu ditengah kesibukan ibu sehari-hari sebagai ibu rumah tangga, ibu berjualan buku tulis dan makanan kecil di rumah, didepan sekolah. Pagi-pagi setelah sholat subuh, ibu pergi ke pasar untuk membeli makanan kecil untuk dijual. Diakhir pekan, ibu dan kakakku pun harus pergi ke pasar mester Jatinegara untuk membeli barang-barang keperluan sekolah untuk dijual. Bahkan terkadang ibu harus pergi sendiri ke pasar Mester Jatinegara. Pada malam harinya, aku dan kakakku juga mendapat tugas untuk membungkus es untuk kami jual pada pagi harinya. Biasanya aku dan kakakku membungkus es setelah mengaji dan sholat magrib dengan bapak. Bapak juga mengajar ngaji. Tidak hanya aku dan kakakku saja yang mengaji, juga beberapa teman tetanggaku. Setelah selesai membungkus es, baru aku belajar dan mengerjakan PR. Aku sangat beruntung sekali punya bapak seorang guru, karena aku selalu bisa mengerjakan PR dengan benar. Apalagi jika PRnya matematika, bapak selalu sabar untuk mengajariku. Saat mengerjakan PR, aku selalu harus mengerjakan soal yang bapak berikan sebelum mengerjakan PR yang diberikan oleh guruku. Kata Bapak, bapak pengen tahu apa aku mengerti atau tidak apa yang sudah diajarkan.
Semua keluarga kami diberi tugas rumah oleh Bapak dan Ibu. Kakakku ada yang bertugas mencuci, mengepel, menyetrika dan memasak membantu ibu. Sementara aku si bungsu diberi tugas untuk menyapu halaman dan membuka warung. Jadi sebelum pergi sekolah, setelah sholat subuh, aku membuka warung dan menyapu sekeliling rumahku. Pernah suatu ketika aku bilang kepada bapak.. “Pak pohonnya ditebang saja supaya aku tidak perlu menyapu setiap hari…?” Bapak dengan penuh kasih sayang menjawab, “Nanti kalau pohon jambu ini ditebang, kamu tidak bisa lagi ambil buah jambunya…. Jadi biar kamu bisa memetik buahnya lagi, kamu harus mau sapu daun-daun yang jatuh… kan kalau kamu lapar, kamu juga makan lagi….?” Begitu ujarnya…
Kami pun diberi giliran untuk menunggu warung. Kalau sekolahku siang dan kakakku pagi, berarti aku tunggu warung pagi dan kakaku tunggu warung siang. Begitulah kehidupan kami selama kami tinggal di rumah dinas didepan sekolah itu.
Saat aku lulus SD, guruku menawarkan aku masuk kesekolah favorit di Jakarta yaitu SMPN 49 jakarta. Aku sampaikan saran guruku kepada bapak yang ketika itu masih menjadi kepala sekolah SMP 1 Cimanggis. Bapak menyarankan aku sekolah di SMP 1 Cimanggis saja dengan segala pertimbangan. Diantaranya biaya sekolahnya bisa lebih murah karena tidak perlu ongkos naik mobil. Akhirnya akupun masuk SMP 1 Cimanggis.
Ketika aku kelas 2 SMP, bapak harus pindah tugas ke SMPN 1 Cibinong. Seluruh keluargapun harus pindah dari rumah dinas sekolah itu. Aku sempat bimbang, apakah ikut bapak atau tidak. Tapi akhirnya aku memilih menuntaskan sekolahku di SMP 1 Cimanggis. Keluargaku pun pindah ke Citeureup, kota kelahiran orang tuaku. Dengan demikian aku harus naik bus JayaMini selama 1 jam untuk sampai ke sekolah.
Akhirnya setelah lulus SMP, aku memilih untuk masuk ke SMAN 1 Bogor, dengan pertimbangan lebih dekat dengan rumah orang tua. Setelah menamatkan SMA, aku melanjutkan kuliah di IPB karena aku mendapat PMDK (jalur tanpa test) dan setelah lulus alhamdullilah aku bisa menjadi salah satu pengajar di IPB. Dan kini aku tengah berjuang keras untuk menyelesaikan studi S3 ku di UI.
Entah mengapa malam ini.. aku ingat semua kejadian itu…
Bapak, Umi…
Beliaulah yang telah mendidik aku menjadi seperti ini…
Beliaulah yang telah mengajariku bekerja keras dalam hidup…
Beliaulah yang mengajari aku untuk beribadah kepada Allah..
Terima kasih Pa, Umi…
Terima kasih ya Allah atas semua yang telah engkau berikan kepadaku..
orangtua yang sangat menyayangi, mengajari dan selalu mendoakan aku..
kakak-kakaku yang selalu membantuku dalam segala kesulitan dan masalah yang aku hadapi.
Bapak, Umi, Aa dan semua kakakku…. Maafkan aku yang belum bisa memenuhi semua impianmu..
Aku ingin persembahkan kelulusanku untuk Bapak, ummi dan semua yang mencintai aku….
Usai Ujian Promosi Doktor, 12 Januari 2010
“Praise and gratitude be to ALLAH, almighty,
without whose gracious help it would have been impossible to accomplish this work.”
Menulis dan menyajikan presentasi dengan baik adalah salah satu yang melengkapi keberhasilan sebuah penelitian. Ide penelitian akan mudah dipahami oleh pendengar jika penyaji dapat menyampaikan penelitian dengan efektif.
Melalui tulisan ini saya mencoba untuk berbagi pengalaman dalam menulis presentasi. Artikel sebelumnya mengenai presentasi juga pernah saya tulis yaitu : http://yeniherdiyeni.wordpress.com/2008/07/24/ujian-sidang/
Menyajikan presentasi dalam seminar penelitian biasanya tidak lebih dari 20 menit. Itu pun sudah termasuk dengan Tanya jawab 5 menit. Jadi jumlah waktu yang digunakan untuk presentasi hanya 15. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh pendengar. Yang harus diperhatikan antara lain:
- Perhatikan ruang seminar dan peralatan yang akan digunakan. Posisi berdiri penyaji seyogyanya tidak menutupi slide dan tidak menghalangi pendengar.
- Tidak hanya membaca slide. Usahakan untuk berkomunikasi dengan menghadap pendengar (keep eye contact).
- Membuat presentasi tidak sama dengan menulis makalah penelitian. Waktu yang dapat digunakan hanya 15 menit. Sebagai estimasi, waktu yang diperlukan untuk menjelaskan 1 buah slide adalah 1 menit. Dengan demikian jumlah slide hanya berkisar 15-20 slide saja. Oleh karena itu jangan menulis terlalu detail seperti pada makalah. Bagian penting yang harus disampaikan antara lain: latar belakang penelitian, tujuan penelitian, metodologi penelitian, hasil penelitian dan kesimpulan. Tidak perlu menjelaskan setiap istilah/teknik yang digunakan dalam tinjauan pustakan seperti dalam tulisan makalah. Penjelasan teknik bisa dilakukan pada saat menjelaskan metodologi.
- Buatlah ilustrasi gambar yang menarik untuk menjelaskan latar belakang dan tahapan metodologi. Hal ini sangat penting karena penjelasan dengan menggunakan ilustrasi gambar memudahkan penyaji dalam menjelaskan dan membuat pendengat mudah memahami.
- Jangan terlalu banyak menuliskan rumus matematika pada slide. Sangat sulit untuk menjelaskan secara detail formula matematika dalam waktu 15 menit. Oleh karena itu cukup menuliskan formula matematika yang merupakan ide utama penelitian yang digunakan. Gunakan ilustasi gambar sehingga memudahkan pendengar memahami ide penelitian.
- Berikan penjelasan hasil penelitian sebaik mungkin dan jangan tergesa-gesa, karena bagian ini merupakan bagian penting. Jika ada, sampaikan konstribusi penelitian yang dilakukan
- Persiapan presentasi yang baik mampu membuat penyaji lebih percaya diri dalam menyampaikan presentasi…
- contoh slide : presentation_sample
- Jika anda ingin tahu teknik menulis techincal papers, please read this: hints
Steve Job seorang pendiri Apple mengatakan :
“You’re time is limited so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma–which is living with the result of other people’s thinking. Don’t let the noise of other opinions drown out your own inner voice. Stay hungry, stay foolish”
Semoga Bermanfaat.. dan Good luck!!
Here is an interesting and lovely way to look at the beauty of mathematics, and of God, the sum of all wonders.
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 987 65
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321
1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111
9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888
Brilliant, isn’t it?
And look at this symmetry:
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321
Now, take a look at this…
101%
From a strictly mathematical viewpoint:
What Equals 100%?
What does it mean to give MORE than 100%?
Ever wonder about those people who say they are giving more than 100%?
We have all been in situations where someone wants you to
GIVE OVER 100%.
How about ACHIEVING 101%?
What equals 100% in life?
Here’s a little mathematical formula that might help
Answer these questions:
If:
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
Is represented as:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.
If:
H-A-R-D-W-O-R- K
8+1+18+4+23+15+18+11 = 98%
And:
K-N-O-W-L-E-D-G-E
11+14+15+23+12+5+4+7+5 = 96%
But:
A-T-T-I-T-U-D-E
1+20+20+9+20+21+4+5 = 100%
THEN, look how far the love of God will take you:
L-O-V-E-O-F-G-O-D
12+15+22+5+15+6+7+15+4 = 101%
Therefore, one can conclude with mathematical certainty that:
While Hard Work and Knowledge will get you close, and Attitude will
Get you there, It’s the Love of God that will put you over the top!
Taken from http://darvish.wordpress.com.
“I’m nothing without you
Without you i lack what it takes
Unless we’re combined
I have half a mind
To blow all my chances and breaks
It’s time to stop quaking
Start taking the lead
I’m nothing without you
Without you i’m nothing…”
Ini adalah sebuah cuplikan syair lagu. Kalimat ini sudah pernah kita dengar.
I’m nothing without u sebuah ungkapan tulus dari seseorang kepada orang lain. Jika kita cermati lebih dalam lagi kalimat ini begitu bermakna.
Pertama, ungkapan ini sudah seharusnya kita sampaikan kepada Tuhan, karena memang Dia lah yang menggerakkan semuanya. Tanpa seijinNya tidaklah mungkin terjadi. Kedua, ungkapan ini pun seharusnya kita sampaikan juga kepada orang tua, teman, rekan sejawat, atau bahkan orang yang lebih muda dari kita. Coba perhatikan, apakah seorang dosen akan bisa mengajar tanpa adanya mahasiswa?, apakah kita bisa makan nasi tanpa ada seorang yang menanam padi?, apakah kita bisa sekolah tanpa biaya orang tua?, atau apakah bisa kita bekerja tanpa rekan kerja yang lain? Hampir semua yang kita kerjakan dan nikmati itu tidaklah pernah lepas dari orang lain… Jika demikian, pantaskah jika kita merasa sombong? Pantaskah jika kita merasa paling berjasa? Atau pantaskah kita merasa paling benar?
I’m nothing without you … Without you i lack what it takes
I have half a mind …To blow all my chances and breaks.
I’m nothing without you adalah sebuah ungkapan yang dalam yang bisa menjadikan seseorang menjadi rendah hati.
I’m nothing without you adalah sebuah penghargaan kepada orang lain atas apa yang telah kita capai
I’m nothing without you adalah sebuah penyerahan diri pada Tuhan …….
Ditulis oleh :
Bapak Julio Adisantoso (staf Ilmu Komputer FMIPA IPB)
Di suatu acara seminar pembelajaran multimedia di suatu perguruan tinggi, saya berkesempatan menyimak paparan rekan sesama pemakalah. Beliau menyajikan dua judul presentasi, salah satunya yang akan saya bagi cerita di sini adalah pembelajaran kontekstual yang lebih dikenal dengan istilah Student Center Learning (SCL). Mungkin soal ini sudah banyak dikupas di pelatihan pekerti atau AA, yang sampai kini pun belum pernah saya ikuti.
Rekan tadi menyajikan dengan sangat menarik, diawali dengan kutipan dari Benjamin Franklin yang sarat makna, yaitu: “Tell me and I forget. Teach me and I may remember. Involve me and I will learn”. Dari sini saya merenung, apakah selama ini saya di kelas hanya bercerita yang membuat mahasiswa melupakannya, hanya mengajar yang membuat mahasiswa menghafal, atau lebih membuat mahasiswa untuk belajar sehingga lebih berkembang? Ternyata saya merasakan bahwa banyak hal yang harus saya lakukan untuk menjadi dosen yang baik. Apalagi jika dihubungkan dengan penilaian yang biasa dilakukan, apakah hanya menilai kemampuan minimal penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sesuai sasaran kurikulum; ataukah menilai kompetensi seseorang untuk dapat melakukan tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu? Sangat berat ternyata untuk melakukan itu semua.
Ternyata selama ini saya masih pada tahap traditional teaching, yang hasilnya membuat mahasiswa D3C (duduk, dengar, diam, catat), memiliki kemampuan konseptualisasi yang terbatas, tahu/hafal materi pelajaran, tetapi tidak tahu aplikasinya di dunia nyata, apatis, dan tidak dapat “think outside the box”. Nah, dalam SCL, demikian rekan saya tadi memberi tekanan, sudahkan kita melakukan proses pembelajaran bercirikan hal-hal berikut: (1) Fokus pada proses; (2) Penekanan pada mengetahui “bagaimana”; (3) Dosen berperan sebagai fasilitator, narasumber, dan mitra; (4) Siswa bekerja dalam kelompok/tim, secara kolektif dan kolaboratif; (5) Siswa bekerja secara independen; (6) Siswa aktif membangun dan mensintesa pengetahuan dari banyak sumber; (7) Kegiatan belajar fleksibel dan tak selalu di dalam kelas; dan (8) Penilaian dengan berbagai cara. Oleh karena itu, dalam SCL, metode yang harus dilakukan adalah: (1) Pembelajaran dengan berbagi pengalaman (information sharing); (2) Pembelajaran dengan pengalaman (experience based, experiential learning); dan (3) Pembelajaran melalui pemecahan masalah (problem-solving based).
Memang, tidak semua matakuliah dapat 100% dilakukan pembelajaran seperti itu, namun minimal menjadi tugas saya sebagai dosen untuk membuat pembelajaran lebih berpusat pada mahasiswa, bukan pada dosen. Sulit sekali ternyata, dan saya makin lebih banyak merenung lagi mendengar paparan terakhir rekan saya tersebut, yang berusaha menyimpulkan dalam satu kalimat: “Kampus tempat mahasiswa belajar, BUKAN tempat dosen mengajar”.
Think globally, act locally.. istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh para pemerhati lingkungan hidup pada tahun 60-an. Dalam konteks tersebut tersebut, berpikir global mengandung makna bahwa ketika kita membuat polusi seyogyanya berpikir bahwa polusi tersebut akan merusak bumi. Tapi kita tidak perlu memaksa negara besar untuk menghentikan polusinya, kita bisa mulai mengurangi polusi dari lingkungan kita sendiri. Ini makna dari act locally.
Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca ada seorang president perusahaan aplikasi bisnis yang bernama Tom Ford. Dia menjelaskan bagaimana filosofi dia ketika mendirikan perusahaan di China dan menjual produknya dipasar Asia. Menurutnya yang perlu dipikirkan pertama adalah
- Bagaimana mendesain aplikasi yang tepat yang sesuai dengan budaya pengguna aplikasi di Asia?
- Bagaimana kebiasaan di Asia dan apa-apa saja yang disukai atau diperlukan oleh pengguna aplikasi di Asia?
Pemikirian hal seperti ini menurutnya akan sangat membantu dalam mendesain produk aplikasi. Bukan semata-mata menjual produk aplikasi yang ada di negara Amerika, melakukan impor produk dari sana dan memaksakan pengguna untuk mengikuti panduan yang sudah digunakan di negara tersebut. Tapi yang dilakukan adalah mencari bentuk dan desain yang tepat sesuai dengan budaya dan kepribadian orang Asia. Pelajari apa yang diperlukan oleh pengguna setempat setelah itu mencari cara yang tepat untuk memproduksi aplikasi sesuai dengan yang mereka butuhkan. Tidak dengan memaksakan pengguna setempat untuk melakukan adaptasi terhadap produk yang didesain.
Mereka tidak mengatakan “here’s the way we do things, do it the way we do in New Jersey,”
Tetapi mereka bertanya “what is the most effective way of doing business in your business environment?”
Dari bacaan tersebut saya mendapat pelajaran bahwa …
“Having a global perspective enables us to learn from people all over the world. But narrowing it down to the local is essential in making a business grow…”
“Broaden your vision, yet narrow your focus… ” (mas Wayan, 2009)… Thanks mas quotenya..
Think Globally, Act Locally makes us Thinks Outside the Box
Moga bermanfaat.


