Les Rives, 19 October 2014

20141019_114507

Setelah mengunjungi Pégairolles-de-l’Escalette, Prof. Stephane mengajak saya mengunjungi Les Rives. Les Rives adalah kota di departemen Hérault di wilayah  Languedoc-Roussillon masih terletak di bagian selatan Perancis.

Pagi itu kami bersiap-siap untuk pergi ke Les Rives. Pa Stephane membawa mobilnya melewati jalan yang mendaki dan berliku. Terlihat ada beberapa warga yang mengendari sepeda di sepanjang jalan. Pemandangan yang kami lalui sangat indah sekali.

Tibalah kami di sebuah jalan panjang yang sepi. Lalu pa Stephane memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan kami pun masuk ke kawasan bebatuan yang sangat luas. Setelah memarkirkan mobil, kami pun berjalan melewati pagar kawat yang terletak di pinggir jalan. Awalnya saya tidak memahami, apa yang akan kami lihat di kawasan ini. Kami pun terus berjalan melewati kawasan batu kapur.

Oh, ternyata pa Stephane membawa saya mengunjungi dataran tinggi Larzac (Larzac plateau). Dataran tinggi Larzac ini merupakan wilayah yang sangat gersang yang terletak diantara Aveyron dan Hérault. Namun kawasan ini akan menjadi danau ketika turun hujan. Namun kejadian ini hanya akaScreen Shot 2014-11-01 at 6.41.20 PMn terjadi setiap sekali dalam sepuluh tahun!!. Saya mendapatkan foto-foto dimana kawasan ini menjadi danau disebuah situs (www.dartahouna.com). Saat saya mengunjungi kawasan ini sedang musim gugur dan kondisinya sedang kering.

Sungguh ini adalah fenomena geologi yang mengagumkan!! Batu-batu besar ini terbentuk indah secara alami. Batu-batu besar ini membentuk lengkungan akibat proses erosi.

Causse du Larzac adalah kawasan terbesar yang tidak berpenghuni dan paling kering diantara Causse yang ada di Perancis. Causse de Larzac terbentuk dari bebatuan kapur yang sangat keras (harsh limestone). Bentuk batu kapurnya sangat beragam. Senang sekali saya melihatnya. Tentunya saya pun segera mengabadikan batu-batu yang indah ini :).

IMG_7710  IMG_7733

IMG_7712 IMG_7720

IMG_7667 IMG_7665 IMG_7663 IMG_7638

Kami pun terus berjalan lebih jauh lagi dan akhirnya menemukan batu besar dan tinggi sekali. Pada bagian bawah batu tersebut terdapat sebuah pipa. Pa Stephane menjelaskan pipa tersebut digunakan untuk menyimpan air ketika kawasan ini menjadi danau. Kawasan ini merupakan kawasan sulit air, sehingga ketika turun hujan dan menjadi danau, maka air tersebut akan disimpan dan dialirkan melalui pipa tersebut.

IMG_7721  IMG_7724

Diantara bebantuan kapur yang indah itu, ada salah satu batu yang saya sangat sukai. Bentuknya mirip wajah manusia. Ada hidung, mata, rambut dan mulut :).Indah sekali bentuk alam ini!!

IMG_7675 IMG_7673

IMG_7654 IMG_7686

IMG_7632 IMG_7645

 IMG_7730 IMG_7702  IMG_7622 20141019_121034

IMG_7628

Ada hal lain yang menakjubkan dari tempat ini yaitu tidak jauh dari dari lokasi batu kapur yang kering ini ada sebuah kawasan hijau yang sangat subur. Ini merupakan fenomena yang menakjubkan !!

IMG_7750  IMG_7755

Again… pa Stephane, thank you so much for bringing me to this wonderful place!! and Happy Birthday for you. It’s great moments to celebrate your birthday in this place :)

 

Referensi:

  • http://www.dartahouna.com/les%20rives%20photo%2000.htm
  • http://www.archmillennium.net/natural_arches_of_France.htm

 

Pégairolles-de-l’Escalette, 18 October 2014

SIMG_7420etelah mengunjungi Chaunac, saya dan keluarga Prof. Stephane melanjutkan perjalanan menuju rumah kediaman orang tuanya di Pégairolles-de-l’Escalette. Perjalanan dari Chaunac menuju Pégairolles-de-l’Escalette memerlukan waktu 3-4 jam menggunakan mobil.

Pégairolles-de-l’Escalette merupakan sebuah pemukiman penduduk di departemen Hérault di wilayah Languedoc-Roussillon di Perancis selatan yang terletak di kaki dataran tinggi Causse de Larzac. Larzac adalah dataran tinggi batu kapur. Pemukiman ini dikelilingi oleh bukit kapur. Indah sekali memandang bukit kapur tersebut. Pemukiman Pégairolles-de-l’Escalette dialiri oleh sungai Lergue. Air sungainya sangat bersih sekali dan dapat langsung diminum!! karena sudah disaring oleh bebatuan. Sebagian besar penduduknya adalah petani anggur. Konon pemukiman ini didirikan pada abad ke 12 sebagai benteng pertahanan.

IMG_7376  IMG_7368

IMG_7417  IMG_7375

IMG_7494  IMG_7402

IMG_7595 IMG_7597 IMG_7598 IMG_7601 IMG_7602  IMG_7592

IMG_7407  IMG_7332 IMG_7383  IMG_7418

Didalam pemukiman ini ada sebuah castle yang digunakan untuk beribadah.

IMG_7491  IMG_7414

Dibagian belakang pemukiman terdapat sebuah monumen bersejarah. Pégairolles-de-l’Escalette memang merupakan salah satu lokasi bersejarah yang dilindungi oleh pemerintah

IMG_7454 IMG_7468

IMG_7480   IMG_7487

IMG_7470  IMG_7473

IMG_7435  IMG_7452

Beberapa rumah di pemukiman ini juga disewakan kepada para wisatawan. Beruntung sekali saya tidak perlu menyewa karena saya tiinggal di salah satu rumah orang tua pa Stephane :). Rumah lainnya juga ada yang dijadikan sebagai museum. Saya melihat salah satu rumah yang menyimpan berbagai macam perabot rumah tangga jaman dahulu. Indah sekali melihatnya.

IMG_7446  IMG_7447

IMG_7416 IMG_7438

IMG_7399 IMG_7415   IMG_7405   IMG_7412     IMG_7426  IMG_7439

IMG_7394

Sungguh ini merupakan perjalanan yang sangat berkesan bagi saya. Terima kasih pa Stephane :)

Collonges La Rouge, 15 October 2014

IMG_7242

Pada hari kedua saya di Chaunac, Prof. Stephane mengajak saya mengunjungi Collonges La Rouge. Collonges La Rouge adalah sebuah perkampungan yang dibangun dengan menggunakan batu berwarna merah atau yang mereka sebut dengan red sandstone. Collonges La Rouge merupakan salah satu perkampungan terindah di Perancis (Les Plus Beaux Villages de France).

IMG_7297Kampung ini memang unik dan indah sekali. Semua bangunan rumahnya terbuat dari batu pasir berwarna merah. Dengan desain khas eropa, bangunan ini terlihat sangat cantik. Konon bangunan ini dibangun pada abad ke-8 dan merupakan sumbangan dari Limoges of the parish kepada biara Charroux.

Perkampungan ini terletak di wilayah Limousin, Departemen Correze. Sejarah berdirinya perkampungan ini diawali oleh dibangunnya sebuah biara oleh para biarawan dari Charraoux Abbey pada abad ke-8. Setelah revolusi Perancis, bangunan ini sempat hancur dan kemudian pada abad ke-19 masyarakat membangun kembali perkampungan ini. Jumlah penduduknya sempat mengalami penurunan dan desa tersebut berubah menjadi desa penambang batu. Pada abad ke-20 warganya membentuk association Les Amis de Collonges (The Friends of Collonges) dan kemudian pada tahun 1942 desa ini menjadi salah satu monumen bersejarah di Perancis :)

Desa ini memang patut dikunjungi. Ornamen dan desain rumahnya sangat cantik sekali. Warna merah batu dan bunga hias menempel di dinding rumah dan membuat rumah tersebut menjadi sangat asri sekali. Lagi lagi saya sangat bersyukur bisa mengunjungi tempat ini.  Terima kasih ya Allah Engkau beri saya kesempatan ini. Dear Stephane and family, thank you so much :)

IMG_7251  IMG_7252IMG_7261   IMG_7253

IMG_7268 IMG_7289

Di pintu depan saya IMG_7235meilihat peta perkampungan tersebut. Selain rumah penduduk, ada beberapa bangunan yang bersejarah diantaranya gereja dan castle. Gerejanya bernama Saint-Pierre. Gereja ini resmi menjadi salah satu monumen bersejarah sejak 4 April 1905. Menarik sekali membaca sejarah didalam gereja ini.

 

 IMG_7311 IMG_7312 IMG_7319IMG_7316  IMG_7313

IMG_7318

Chaunac, 14 Oktober 2014

IMG_7216Setelah seminggu saya melakukan penelitian di kampus Universitas Paris Diderot, Prof. Stephane, partner riset saya mengajak saya untuk berlibur ke Chaunac, Naves kampung halamannya, tempat tinggalnya dulu bersama orang tuanya. Chaunac adalah sebuah kota kecil disebelah selatan Perancis, tepatnya di departemen Naves (Correze), Limousin.

Kami tinggal di sebuah rumah tua yang masih sangat terawat. Rumah tersebut sangat bergaya eropa. Saya sangat terkesan sekali karena didalamnya banyak sekali koleksi buku. Sayang saya tidak bisa memahami isi buku karena hampir semuanya berbahasa Perancis :p. Bisa dipastikan Stephane berasal dari keluarga yang sangat berpendidikan. Ternyata dugaan saya itu benar. Stephane bercerita kakeknya dulu adalah seorang entomologist… hmmm …:) Di samping rumah ada sebuah bangunan kecil yang sudah tidak digunakan lagi. Dulu rumah tersebut katanya ruang kerja kakeknya dan juga berfungsi sebagai museum serangga.

04 02 IMG_7215

Suara kicau burung menghiasi pagi yang berembun. Damai sekali mendengar kicau burung dan melihat kabut di pagi hari… udara yang sangat bersih dan segar membuat saya ingin keluar rumah pagi-pagi. Suhu pagi itu mencapai 10 derajat celcius. Saat itu memang sudah masuk musim gugur.

1514594_10152772769049841_7405611357418331656_nRumah tersebut berlokasi tidak jauh dari hutan. Menurut Stéphane, dulu ketika beliau kecil seringkali ke hutan untuk mencari chestnut dan jamur. Keesokan paginya saya pun diajak Stephane untuk menyusuri hutan tersebut. Wah senang sekali rasanya. Kami akan mengumpulkan chestnut dan jamur untuk makan malam … :).

Stephane pun mengajak istri dan si baby Anand masuk ke dalam hutan. Sungguh saya sangat kagum dengan keharmonisan keluarga ini. Dan ternyata Stephane pandai sekali menggendong sang bayi Anand!!. Saya senang sekali melihat foto tersebut :)

IMG_7169 10455823_10152774732004841_5980383732225491808_n   IMG_7126

Di dalam hutan, saya tidak hanya diajak untuk mengumpulkan chestnut dan jamur saja, namun juga dijelaskan bagaimana cara memilih chestnut dan jamur yang baik. Dengan detailnya Stephane menjelaskan bagaimana membedakan jamur yang bisa dimakan dan jamur yang mengandung racun.

Di dalam hutan kami menemukan banyak sekali chestnut. Demikian pula pemandangan didalam hutan sangat indah sekali. Tentunya saya mengabadikan keindahan hutan itu. Selain warna hutan yang khas, saya juga mendengar suara air yang mengalir di sungai kecil yang melintasi pohon-pohon didalam hutan. Sungguh ini pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Thanks Stéphane… I miss this place so much!!

IMG_7182 IMG_7171 IMG_7163  IMG_7159  IMG_7136 IMG_7151

IMG_7155IMG_7146 IMG_7153

Kahuripan, 25 Juni 2014

Menjadi Professor atau pengusaha hidroponik? hehehe pertanyaan lucu ini begitu saja keluar dari seorang teman dekat saya yang mengetahui kalau saya baru saja mendapatkan kenaikan jabatan dosen lektor kepala tertanggal 1 Juni 2014. Alhamdullilah.. :)

Perlu waktu tiga tahun untuk menunggu proses kenaikan pangkat ini… berawal dari semangat 45 mengajukan kenaikan pangkat ini sampai akhirnya pasrah ajah dah hehehehe… Tapi akhirnya Alhamdullilah, Allah masih mengijinkan. Lektor kepala adalah jabatan fungsional dosen ketiga setelah Asisten Ahli dan Lektor dan satu tahapan lagi untuk menjadi Profesor. Bukanlah hal yang mudah untuk menjadi seorang profesor. Selain angka kredit yang dipersyaratkan minimal 850,  seorang dosen dengan jabatan Lektor Kepala baru bisa mengajukan menjadi Profesor setelah tiga tahun memiliki ijazah Doktor dan empat tahun menjadi Lektor Kepala serta memiliki tulisan di Jurnal Internasional bereputasi, hmmmm…. tidak mudah dan prosesnya butuh kesabaran hehehe… Itulah sebabnya mengapa teman saya bertanya kepada saya mau jadi profesor atau pengusaha hidroponik? hahaha….Menurut perhitungan rekan saya yang saat ini menekuni usaha hidroponik, waktu Empat tahun merintis usaha hidroponik sudah bisa menghasilkan omset 20 jt/per bulan whaaaa…menggiurkan memang hahahah….

Bagi saya pribadi, menjadi akademisi dan berkebun dua-duanya merupakan pekerjaan yang menyenangkan.. saya hobi melakukan pekerjaan itu. Namun memang berkebun tidak banyak menghabiskan energi emosi dan pikiran…walaupun sayuran yang ditanam menjadi kuning dan terkena penyakit saya tidak merasa kecewa apalagi emosi.. biasa saja…. :) gagal, lalu tanam lagi hehehe…  berbeda dengan menjadi dosen :). Bukan pekerjaan mengajar dan menelitinya yang seringkali menguras emosi dan pikiran namun lingkungannya hehehe… (#eh kok jd curcol .. 😉

Saya bahagia dan senang menjadi seorang dosen.. :) Seperti yang pernah saya sampaikan pada tulisan saya yang berjudul  “Apakah saya menyesal menjadi dosen?” Walaupun tidak mudah untuk menempuh jenjang karir menjadi seorang dosen, dan begitu jauh jika dibandingkan secara materi dengan pekerjaan lainnya, namun merupakan kepuasan tersendiri bisa mengajar, membimbing dan menjadikan mahasiswa menjadi seorang sarjana … :)

Ah, biarlah saat ini dua pekerjaan tersebut saya coba tekuni… karena saya hanya ingin mengejar kebahagiaan bukan materi … :). Steve Jobs juga pernah berkata :

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma – which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of other’s opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

Bersyukurlah dan bekerjalah untuk dunia dan akhirat ….. :)

 

Kahuripan, 25 Juni 2014

The most beautiful people we have known are those who have known defeat, known suffering, known struggle, known loss, and have found their way out of the depths. These persons have an appreciation, a sensitivity, and an understanding of life that fills them with compassion, gentleness, and a deep loving concern. Beautiful people do not just happen. – Elisabeth Kübler-Ross

Foto-foto ini diambil di kebun hidroponik saya dengan menggunakan kamera Canon 60D dengan lensa macro 100mm

Jakarta, 24-25 Mei 2014

Pantai Pasir Perawan adalah sebuah tempat wisata di kawasan pulau Seribu Jakarta. Cuaca saat pengambilan foto ini agak sedikit mendung dan awan berwarna putih.

IMAG0772 IMAG0775 IMG_4857

IMAG0781

IMG_4858

 IMG_4853 IMG_4839

IMG_4824 IMG_4830 IMG_5014

Perjalanan menuju kawasan wisata ini tidaklah “seindah” pemandangan laut dan pantainya. Gubernur Jakarta saya pikir perlu membenahi jalur transportasi dan menata ulang kawasan Darmaga kapal agar tidak terlihat kumuh dan bau.. Saya mengambil beberapa foto kotor dan baunya lokasi darmaga kapal. Namun saya tidak ingin foto tersebut mengotori indahnya Pantai Pasir Perawan…. :)

Jakarta adalah ibukota negara, jadi saya membayangkan apa yang ada dipikiran wisatawan asing ketika melihat bagian dari  wajah ibu kota seperti itu…

Semoga saja gubernur yang akan datang membenahi Jakarta sampai tuntas :)

Riau, 6 Mei 2014.

Melakukan aktivitas di luar kampus bagi saya merupakan salah satu kegiatan yang dapat mengisi energi baru ditengah kepenatan kegiatan kampus. Selain mengajar, meneliti dan melakukan aktifitas rutin di kampus, menurut saya perlu juga menjalin networking dengan lingkungan di luar kampus.

DSC_0552Pada tanggal 5-7 Mei 2014, saya bersama dengan Prof. Lilik B. Prasetyo melakukan kunjungan ke PT. Arara Abadi, salah satu perusahaan HTI milik Sinarmas di Perawang Riau. Tujuan kunjungan tersebut adalah dalam rangka memenuhi undangan unit Research and Development (R & D) PT. Arara Abadi untuk menjadi narasumber pada acara Workshop yang bertema “Sistem Monitoring Hama dan Penyakit Hutan dan Tanaman Industri Berbasis Informasi dan Teknologi”. Dalam workshop tersebut saya menyampaikan materi “Computer Vision for IPM” dan Prof. Lilik menyampaikan materi “Hyperspectral for Plantation”. Acara workshop tersebut dihadiri juga oleh kantor PT. Arara Abadi di wilayah lain dengan menggunakan teleconference. Dalam kesempatan tersebut, saya bertemu dengan Direktur R & D yaitu Bapak Bambang Herdyantara, Kepala R & D Bapak Mardai dan Dr. Budi Cahyono.

DSC_0568 DSC_0574 DSC_0566 DSC_0581 DSC_0584 DSC_0551

Dalam acara kunjungan tersebut, kami juga mengunjungi hutan Eucalypus dan Acacia untuk melihat jenis penyakit dan hama yang menyerang tanaman tersebut. Luas lahannya sangat luas sekali. Menurut Dr. Budi Cahyono, monitoring hama dan penyakit untuk kawasan yang sangat luas seperti ini membutuhkan teknologi komputer. PT. Arara Abadi berharap dapat bekerjasama dengan IPB khususnya dengan lab Computer Vision Dept Ilmu Komputer untuk mengembangkan teknologi berbasis computer vision untuk identifikasi dan monitoring hama dan penyakit. Sungguh ini merupakan kesempatan dan tantangan yang baik bagi kami. Sampai saat ini grup riset Computer Vision, Departemen Ilmu Komputer sudah melakukan riset dan mengembangankan beberapa aplikasi berbasis web dan mobile untuk monitoring hama dan penyakit tanamana holtikultura seperti padi, kubis, dan tomat.

DSC_0519 DSC_0520 DSC_0512 DSC_0509 DSC_0504 DSC_0728 DSC_0648 DSC_0629 DSC_0610 DSC_0525

Pada hari ketiga saya diberi kesempatan oleh pa Budi untuk mengunjungi nursery. Lokasinya terbilang jauh dari kantor R & D. Lebih kurang satu jam untuk tiba di tempat tersebut. Di lokasi nursery, pa Budi menunjukkan beberapa jenis penyakit yang menyerang bibit tanaman eucalptus dan acasia. Saya juga sempat memberikan pengarahan cara pengambilan foto penyakit untuk keperluan identifikasi penyakit berbasis citra.

DSC_0663 DSC_0666 DSC_0667 DSC_0668 DSC_0549 DSC_0546

Tidak jauh dari tempat nursery, saya mengunjungi Arboretrum milik PT. Arara Abadi. Disana ternyata dikembangbiakkan juga gajah :) menarik sekali dan cukup indah pemandangannya. Konon katanya gajah ini pandai menirukan manusia, karena dilatih oleh pawang gajah. Perjalanan ini cukup panas namun sangat menyenangkan dan menambah pengetahuan baru bagi saya. Kami sangat berharap bisa membantu mengembangan teknologi computer vision untuk monitoring hama dan penyakit pada lahan PT. Arara Abadi. Semoga. Terima kasih kepada pa Budi dan tim yang sudah mengantarkan saya mengunjungi PT. Arara Abadi.

DSC_0712  DSC_0704 DSC_0701  DSC_0708 DSC_0700

Fast track adalah program percepatan studi, dimana seseorang mahasiswa dapat menyeselesaikan program S-1 kurang dari 8 semester dan S-2 kurang dari 4 semester asal sks minimum tercukupi, mahasiswa tetap dapat ijzazah S-1 dan S-2 (Sumber: Panduan Program Beasiswa Unggulan DIKTI). Tujuannya adalah untuk memproduksi sarjana S1 dan S2 lebih cepat. Mahasiswa yang dapat mengambil program ini tentunya harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Saya ingin berbagi fenomena yang muncul dengan adanya program Fast Track ini. Alhamdullilah selama ini mahasiswa bimbingan saya, sebagian besar memiliki prestasi yang cukup baik. Sampai saat ini ada tiga mahasiswa bimbingan saya yang mengambil program Fast Track. Tentu saja mahasiswa tersebut memiliki prestasi akademik yang baik dan tentunya memenuhi syarat. Namun selama proses pembimbingan tugas akhir, saya mengamati beberapa dampak negatif yang muncul akibat program fast track tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam pelaksanaanya, mahasiwa yang mengambil program fast track mengambil mata kuliah S2 pada tahun ke-4 bersamaan dengan dengan pengerjaan tugas akhir. Disinilah muncul pokok permasalahannya. Melakukan riset itu tidaklah sama dengan mengikuti perkuliahan. Melakukan riset memerlukan waktu yang banyak untuk melakukan eksplorasi membaca jurnal, buku, melakukan eskperimen dll. Melakukan riset itu perlu “Passion”. Tidaklah mudah mencerna penelitian orang lain dari jurnal/publikasi. Perlu waktu yang sangat banyak sekali untuk membaca berulang kali makalah/paper yang sedang dipelajari. Saya ingin katakan, membaca paper penelitian itu perlu “dinikmati”…

Selain membaca paper, mahasiswa saya setiap minggu perlu menyampaikan progress risetnya secara rutin. Namun dilain pihak mahasiswa tersebut terbebani juga dengan tugas-tugas perkuliahan S2. Ini tentu saja membuat mahasiswa “STRESS” !! dan pada akhirnya tidak lagi “menikmati” apa yang sedang dipelajari…. Apakah pembelajaran seperti ini baik!!?? tentu saja tidak.!!  

Proses pembelajaran itu harus “dinikmati”, tidak bisa dilakukan dengan “tergesa-gesa”!… Selain itu juga dalam melakukan riset harus banyak membaca literatur lalu mencerna literatur itu dengan baik. Sistem kerja otak itu sama rumitnya dengan sistem kerja pencernaan. Mengunyah makanan saja tidak boleh tergesa-gesa, agar sistem pencernaan dapat mencerna makanan dengan baik dan “TIDAK STRESS” akibat dipaksakan. Demikian pula dengan sistem kerja otak! … Jika prestasi mahasiswa tidak benar-benar “EXCELLENT” maka FAST TRACK sama dengan FAST FOOD. Tidak Sehat!

Nikmati “PROSES PEMBELAJARANNYA”. Jangan tergesa-gesa! Proses yang dilakukan secara paralel itu BELUM TENTU BAIK KOK!!…

Jika saya menjadi mahasiswa lagi, saya akan memilih menyelesaikan tugas akhir saya sebaik dan secepat mungkin , setelah itu baru melanjutkan studi lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

 

 

Somewhere over the rainbow, 29 Maret 2014

Siang ini saya mendapat pesan email dari seorang mahasiswa saya. Sebutlah dia Anton.

Assalamu’alaikum buk yeni.. maaf mengganggu.. pikiran saya terbuka atas ibu yang paparkan minggu lalu.. tp, jujur saya memang kurang motivasi buk karna belum mengetahui passion saya kemana.. gairah saya masih kurang untuk melihat sesuatu karna masih takut-takut kedepannya gmn.. jd, klu boleh bertanya buk.. baiknya apa yg saya lakukan?? metode belajar yang bagaimana baiknya saya terapkan.. soalnya dengan adanya ikut berorganisasi cukup membuat saya lelah dan tidak cukup waktu lagi buat belajar.. terima kasih buk atas waktunya.

Anton adalah salah satu mahasiswa yang saya tegur ketika kuliah karena dia tidak melakukan aktifitas apapun pada saat mengikuti perkuliahan. Dia hanya duduk di kursi dengan tangan melipat di meja dan menatap ke depan tanpa terlihat sedikitpun dia menikmati kuliah. Setelah melihat kondisi tersebut, maka saya sempatkan untuk menjelaskan sedikit mengenai “forgetting curve” kepada mahasiswa. Agar mahasiswa bisa membaca secara detail, selesai kuliah, malam harinya saya menyempatkan menulis secara detail mengenai “forgetting curve“. Silahkan dapat dibaca di sini.

Pada kesempatan yang lain, saat diskusi riset mingguan di lab bersama dengan mahasiswa saya, ada seorang mahasiswa yang menangis karena merasa “dipaksa” kuliah di jurusannya saat ini oleh orang tuanya. Dari keterpaksaan itulah akhirnya dia tidak sungguh-sungguh menjalani kuliahnya dan terpaksa harus mengulangi mata kuliah.. Sungguh saya prihatin sekali mendengarkan ceritanya..

Hmmm…Berawal dari kisah itulah kemudian saya ingin menyampaikan pengalaman saya melalui tulisan ini… Ketika saya SMA saya ingin sekali menjadi dokter. Oleh karenanya saya pun masuk jurusan Biologi, walau guru saya menyarankan saya masuk Fisika. Saya keukeuh dengan keinginan saya  menjadi dokter. Selepas SMA saya mendapat beasiswa PMDK (jalur tanpa tes) untuk masuk ke IPB dengan jurusan Ilmu Komputer.. saat itu bingung, bagaimana dengan passion saya menjadi dokter?? Tetapi saat itu orang tua saya menasihati saya untuk mengambil saja PMDK itu dan dengan bijaksana ortu saya bilang, tahun depan, kalau kamu masih penasaran kamu bisa coba tes UMPTN untuk kuliah kedokteran. Saat itu pun saya patuh dengan ortu karena saya tidak ingin mengecewakan mereka. Bisa anda bayangkan ilmu komputer dan kedokteran dua dunia yang berbeda… tetapi saya mencoba menekuni dengan baik bidang itu dengan belajar dengan baik dan kuliah dengan baik. Salah satu pelajaran yang diberikan orang tua saya yang selalu saya ingat adalah “Allah tidak membuat kejadian yang sia-sia, sekecil apapun kejadian itu…”. Dari pesan itu saya meyakini, apa yang terjadi pada saya pada saat itu dan kini, itulah cara Allah menunjukkan saya jalan yang terbaik…. Maka waktu itu saya pun tidak lagi terlalu memikirkan passion saya menjadi dokter.. saya jalani saja dengan cara terbaik saya…

Saat ini, saya menjadi seorang dosen.. Apakah saya menyesal menjadi dosen ?! Tentu saja tidak… :) Saya menikmati perjalanan hidup saya, termasuk juga menjalani pendidikan.  Saat ini saya sudah menyelesaikan studi S3 dengan bidang yang sama. S1, S2, dan S3 saya ilmu komputer… Saya mendapatkan banyak sekali nikmat melalui perjalanan hidup saya ini. Alhamdulillah…:)  Lalu kemanakah passion saya… Apa yang sudah bisa kerjakan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, itulah passion saya..!!

Next Page »