January 2008


Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan” (Harun Yahya).

Kalimat itu yang pertama kali kubaca dalam novel “edensor” Andrea Hirata, novel ketiga dari tetralogi laskar pelangi. “Edensor” seolah memberiku selimut hangat dalam keheningan malam yang hampir membuatku “beku” malam ini. Tak kupungkiri jika kejenuhan tengah menghampiriku akhir-akhir ini. Seakan jenuh untuk merangkai setiap elemen itu menjadi sesuatu yang sempurna. Andrea mencoba meyakinkan apa yang disampaikan Harun Yahya melalui kisah hidupnya.

Novel itu lagi-lagi memberiku keyakinan bahwa memang semua yang terjadi sekecil apapun tidak pernah terjadi secara kebetulan. Saat yang bersamaan aku ingat firman Allah yang pernah kubaca dalam sebuah tafsir Al-Mishbah dalam surat al-Qashash (28:68). Allah berfirman “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan“. Dari ayat tersebut Sayyid Quthub (*) menjelaskan bahwa Allah mencipta apa yang Dia kehendaki. Tidak satu pun yang dapat mengusulkan kepada-Nya sesuatu, tidak juga menambah atau mengurangi sesuatu dari ciptaan-Nya, atau mengubah atau menggantinya. Dia-lah yang memilih dari mahkluk ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki dan siapa yang Dia kehendaki serta untuk apa Dia kehendaki dari pekerjaan, tugas serta kedudukan. Tidak satu pun yang berwenang mengusulkan kepada-Nya seseorang atau satu peristiwa, gerak, ucapan atau pekerjaan. Mereka tidak memiliki pilihan menyangkut diri mereka sendiri, tidak juga menyangkut diri orang lain. Tempat kembali segala persoalan -kecil atau besar- hanyalah Allah semata.

Penjelasan itu mampu membuatku keluar dari “kebekuan”di malam ini. Tidak seharusnya aku marah atas apa yang menimpaku dan yang luput dariku karena bukan aku yang memilihnya tapi yang memilih adalah Allah swt. Yang harus kulakukan adalah menerima apa yang terjadi dengan mencurahkan tenaga, pikiran, dan upaya untuk merangkai elemen-elemen itu menjadi rangkaian yang sempurna dengan ikhlas, hati yang lapang dan penyerahan diri kepada-Nya….

*)Tafsir Al-Mishbah, Volume 10.

Hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan” (Harun Yahya).

Kalimat itu yang pertama kali kubaca dalam novel “edensor” Andrea Hirata, novel ketiga dari tetralogi laskar pelangi. “Edensor” seolah memberiku selimut hangat dalam keheningan malam yang hampir membuatku “beku” malam ini. Tak kupungkiri jika kejenuhan tengah menghampiriku akhir-akhir ini. Seakan jenuh untuk merangkai setiap elemen itu menjadi sesuatu yang sempurna. Andrea mencoba meyakinkan apa yang disampaikan Harun Yahya melalui kisah hidupnya.

Novel itu lagi-lagi memberiku keyakinan bahwa memang semua yang terjadi sekecil apapun tidak pernah terjadi secara kebetulan. Saat yang bersamaan aku ingat firman Allah yang pernah kubaca dalam sebuah tafsir Al-Mishbah dalam surat al-Qashash (28:68). Allah berfirman “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan“. Dari ayat tersebut Sayyid Quthub (*) menjelaskan bahwa Allah mencipta apa yang Dia kehendaki. Tidak satu pun yang dapat mengusulkan kepada-Nya sesuatu, tidak juga menambah atau mengurangi sesuatu dari ciptaan-Nya, atau mengubah atau menggantinya. Dia-lah yang memilih dari mahkluk ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki dan siapa yang Dia kehendaki serta untuk apa Dia kehendaki dari pekerjaan, tugas serta kedudukan. Tidak satu pun yang berwenang mengusulkan kepada-Nya seseorang atau satu peristiwa, gerak, ucapan atau pekerjaan. Mereka tidak memiliki pilihan menyangkut diri mereka sendiri, tidak juga menyangkut diri orang lain. Tempat kembali segala persoalan -kecil atau besar- hanyalah Allah semata.

Penjelasan itu mampu membuatku keluar dari “kebekuan”di malam ini. Tidak seharusnya aku marah atas apa yang menimpaku dan yang luput dariku karena bukan aku yang memilihnya tapi yang memilih adalah Allah swt. Yang harus kulakukan adalah menerima apa yang terjadi dengan mencurahkan tenaga, pikiran, dan upaya untuk merangkai elemen-elemen itu menjadi rangkaian yang sempurna dengan ikhlas, hati yang lapang dan penyerahan diri kepada-Nya….

*)Tafsir Al-Mishbah, Volume 10.

Novel itu terlintas begitu saja saat beberapa waktu lalu aku melihatnya di jajaran buku-buku baru disebuah toko buku di Bogor. Tak tergerak sedikitpun untuk membuka lembar-lembar novel itu. Begitu kesan aku pertama kali melihat novel itu… Lebih lagi, aku bukan pembaca setia novel….:)

laskar_pelangi.jpgSuatu malam tepatnya Jumat 18 Januari 2008 : 22.05, saat aku membuka lembar demi lembar jawaban ujian untuk mengevaluasi hasil ujian sambil sesekali menekan tombol remote TV untuk mencari acara bagus, aku mendapati acara Kick Andy, salah satu acara favoritku. Tamunya yang hadir saat itu adalah Andrea Hirata, seorang penulis buku Laskar Pelangi, salah satu buku yang sebelumnya pernah terlintas dimataku, namun tak menarik perhatianku.

Saat menonton acara itu, aku begitu terkesima dengan kelugasan gaya bicara dan potongan cerita novelnya yang begitu menyentuh hatiku disampaikannya pada acara itu, sampai-sampai aku lupa dengan lembar ujian yang harus ku koreksi malam itu… hmmmm seorang penulis yang “ajaib” karena telah memperdayaku untuk menyaksikan kerendahan hatinya dilayar kaca itu…

Usai menonton acara itu, kuniati hati ini dalam-dalam untuk membaca buku itu.. yah…aku harus membacanya… walau pastinya aku salah satu pembaca yang tertinggal, karena novel ini sudah lama ada…. :p ah, tapi biarlah, moga masih tersisa di toko buku….

Usai mengajar di Jakarta sabtu sore itu, aku sempatkan untuk memcari buku Laskar Pelangi itu disebuah toko buku di Cibubur Junction. Aku beruntung karena masih tersisa 2 buku di rak saat aku menemukannya….:)

Malam itu juga rasanya tak sabar aku ingin baca novel itu…
Baru saja aku baca bab 1, aku sudah bisa merasakan kalau novel ini memang memiliki jiwa, ruh dan ah… apa sajalah namanya.. yang jelas bisa membuatku tersenyum sendiri dan merasa seperti tengah menghabiskan waktu malam itu dengan seorang teman yang mampu membuatku tertawa dan terkesima melihat keluguan dan kelugasan dia bercerita… begitu polos, santun dan jujur ucapannya…… tulus sekali kata-katanya..

Terima kasih Andrea…. kamu sudah membuat aku sadar untuk tidak banyak mengeluh sesulit apapun studi yang sedang aku tempuh saat ini…..

Salam kenal Andrea, semoga karya-karya hebatmu bisa membuat kami lebih sadar dan memahami arti hidup yang sesungguhnya…..

Novel itu terlintas begitu saja saat beberapa waktu lalu aku melihatnya di jajaran buku-buku baru disebuah toko buku di Bogor. Tak tergerak sedikitpun untuk membuka lembar-lembar novel itu. Begitu kesan aku pertama kali melihat novel itu… Lebih lagi, aku bukan pembaca setia novel….:)

laskar_pelangi.jpgSuatu malam tepatnya Jumat 18 Januari 2008 : 22.05, saat aku membuka lembar demi lembar jawaban ujian untuk mengevaluasi hasil ujian sambil sesekali menekan tombol remote TV untuk mencari acara bagus, aku mendapati acara Kick Andy, salah satu acara favoritku. Tamunya yang hadir saat itu adalah Andrea Hirata, seorang penulis buku Laskar Pelangi, salah satu buku yang sebelumnya pernah terlintas dimataku, namun tak menarik perhatianku.

Saat menonton acara itu, aku begitu terkesima dengan kelugasan gaya bicara dan potongan cerita novelnya yang begitu menyentuh hatiku disampaikannya pada acara itu, sampai-sampai aku lupa dengan lembar ujian yang harus ku koreksi malam itu… hmmmm seorang penulis yang “ajaib” karena telah memperdayaku untuk menyaksikan kerendahan hatinya dilayar kaca itu…

Usai menonton acara itu, kuniati hati ini dalam-dalam untuk membaca buku itu.. yah…aku harus membacanya… walau pastinya aku salah satu pembaca yang tertinggal, karena novel ini sudah lama ada…. :p ah, tapi biarlah, moga masih tersisa di toko buku….

Usai mengajar di Jakarta sabtu sore itu, aku sempatkan untuk memcari buku Laskar Pelangi itu disebuah toko buku di Cibubur Junction. Aku beruntung karena masih tersisa 2 buku di rak saat aku menemukannya….:)

Malam itu juga rasanya tak sabar aku ingin baca novel itu…
Baru saja aku baca bab 1, aku sudah bisa merasakan kalau novel ini memang memiliki jiwa, ruh dan ah… apa sajalah namanya.. yang jelas bisa membuatku tersenyum sendiri dan merasa seperti tengah menghabiskan waktu malam itu dengan seorang teman yang mampu membuatku tertawa dan terkesima melihat keluguan dan kelugasan dia bercerita… begitu polos, santun dan jujur ucapannya…… tulus sekali kata-katanya..

Terima kasih Andrea…. kamu sudah membuat aku sadar untuk tidak banyak mengeluh sesulit apapun studi yang sedang aku tempuh saat ini…..

Salam kenal Andrea, semoga karya-karya hebatmu bisa membuat kami lebih sadar dan memahami arti hidup yang sesungguhnya…..

Beberapa minggu yang lalu saya pergi kuliah naik angkot dari Parung ke Depok. Lalu saya ngobrol dengan pa supir.

Begini ceritanya. Pa supir mulai bercerita dari kenapa dia menjadi supir. Dia meceritakan perjalanan hidupnya selama menjadi supir. sungguh membuat saya trenyuh mendengar ceritanya. Betapa tidak, dia mulai mengeluarkan angkot sewaannya dari jam 5 setelah sholat subuh, dan baru kembali jam 8 malam. Dalam sehari 4x melalui trayek Parung – Depok. Itu dia lakukan setiap hari, bahkan hari minggu sekalipun. Bayangkan berapa kali harus melewati macet disepanjang Depok-Parung. ..

Saya bertanya ke pa supir itu, “Kok bisa sih pa istiqomah gitu kerja jadi supir angkot…?? jawabnya “ya.. karena kebutuhan De…” Saat itu saya jadi berpikir, iya yah…. berarti supaya bisa istiqomah dalam hal apapun maka yang terpikir oleh kita harusnya kebutuhan bukan kewajiban… …

Download Artikel

Manusia, salah satu ciptaan Allah yang maha sempurna. Memahami keagungan-Nya semakin membuatku tak berdaya untuk merasa “serba tahu” didalam genggaman alam-Nya. Memahami keagungan-Nya semakin membuatku percaya bahwa melalui alam Allah memberi ilmu-Nya. Kuawali cerita ini dengan menceritakan bagaimana manusia bisa mengenali gambar melalui otak.

Visual Cortex adalah bagian dari otak manusia yang bertugas untuk mengolah informasi yang ditangkap oleh mata manusia. Informasi yang masuk melalui mata (retina) akan masuk kedalam bagian otak yang disebut dengan Lateral Geniculate Nucleus (LGN), yang merupakan prosesor utama dari bagian otak manusia. Selanjutnya informasi dari LGN akan masuk kedalam bagian utama dari visual cortex. Visual cortex tersusun dari beberapa lapisan. Lapisan pertama disebut dengan Visual area 1 (V1). V1 akan mengirimkan informasi melalui dua jalur yang disebut dengan Dorsal Stream dan Ventral Stream.

gbr01.jpg

Ventral stream berperan untuk identifikasi persepsi objek (perceptual identification of objects), yang berupa bentuk, ukuran, warna dan tekstur (object vision). Sedangkan Dorsal stream berperan untuk mengolah informasi spasial objek (spatial vision). Bagian Dorsal inilah yang menyebabkan kita dapat melihat objek bergerak. Lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini.

gbr02.jpg

gbr03.jpg

Melalui jalur Ventral, informasi akan dilanjutkan masuk kedalam visual area 2 (V2), dan selanjutnya masuk kedalam visual area 4 (V4) dan berakhir pada bagian Inferior–Temporal lobe (IT). Sedangkan melalui jalur Dorsal, informasi akan dilanjutkan masuk ke dalam V2 dan masuk kedalam dorsomedial area dan Middle Temporal (MT) area (V5).

gbr04.jpg

Dengan demikian informasi visual diproses oleh otak manusia melalui beberapa tahap yang dilakukan secara hirarki. Mulai dari bagian V1 dimana objek terkecil yang sudah tidak bisa dibagi lagi (atomik) disimpan berupa edge/corner, selanjutnya akan masuk ke dalam V2 dalam bentuk grup-grup feature yang sudah memiliki bentuk objek (intermediate visual forms) dan terakhir akan masuk ke dalam Inferior Temporal (IT). Pada bagian IT ini objek sudah dapat diidentifikasi bentuknya (high level object). Perhatikan siklus tersebut secara lengkap pada gambar dibawah ini.

gbr05.jpg

Sumber :

  1. 1. Goodale, Melvyn A., dan Milner David. 1992. Separate Visual Pathways for Perception and Action. Elsevier Science Publisher Ltd. Vol 15. No 1
  2. Olshausen, BA. 2002. Principles of Image Representation in Visual Cortex.
  3. Riessenhuber M dan Poggio T. 2002. How Visual Cortex Recognizes Object. The Tale of the Standard Model

Ketekunan yang Langka
Oleh: Prof.Dr.Ir.Andi Hakim Nasoetion

SEORANG dosen kembali dari Tokyo membawa gelar Magister Sains Genetika Ikan. Ia melapor akan keberhasilannya itu. Yang ditanyakan rektornya ialahapa yang membuatnya terkesan dengan program pendidikan pascasarjana di Jepang. Maka ia pun menggeleng-gelengka n kepalanya. Katanya, seumur-umurnya baru pada ketika itu ia selama bangun hanya memikirkan dan berbicara tentang ikan atau tentang genetika atau tentang genetika ikan. Pagi hari ketika sarapan ia berbincang dengan kawan sekerjanya tentang perilaku ikan. Di dalam laboratorium ia diajak berdiskusi mengenai DNA oleh dosennya, dan sewaktu makan siang di sela-sela memotong-motong filet tongkol, ia berbincang tentang daerah penangkapan tongkol di daerah Kepulauan Aru. Malam harinya sewaktu tidur, ia bermimpi tentang ikan. Tidak diceritakannya apakah sebelum bermimpi mengenai ikan itu keesokan harinya ia menang undian berhadian (karena ada satu mitos jika mimpi mendapatkan ikan akan ketiban rejeki).

Kemudian lagi rektornya bertanya kepadanya peristiwa apa yang paling mengagetkan yang dihadapinya di kampus asalnya sewaktu ia kembali mengajar. Ternyata ia terkejut sekali ketika melihat warga kampus sewaktu sedang beristirahat tidak berbincang mengenai ilmu yang harus ditekuni-nya, melainkan mengenai upaya mengokohkan iman dan bagaimana caranya berperilaku sesuai dengan iman mereka masing-masing.

Tidak ada lagi yang mereka perbincangkan selain bagaimana caranya mendukung perjuangan umat yang seiman. Kalau pun ada bedah buku diantara sesama mahasiswa, maka pokok bahasan bedah buku itu menyangkut masalah yang ada di luar jangkauan, seperti misalnya di Palestina atau Bosnia. Masalah yang kalau hanya dibicarakan tidak ada selesai-selesainya.

Ini mengingatkan rektornya akan peristiwa seorang anggota tim olimpiade matematika internasional asal Denmark berbincang-bincang dengan anggota tim dari Norwegia tentang penyelesaian sebuah masalah matematika yang memerlukan pengetahuan tentang teori Galois. Percakap-an itu mereka lakukan ketika sedang berpesiar dengan kapal di Laut Bosporus.
Apa yang dilakukan di Jepang dan Laut Bosporus itu adalah teladan tentang ketekunan yang diungkapkan ilmuwan biologi dan calon ilmuwan matematika ketika mereka sudah bertekad memilih bidang ilmu itu sebagai perhatian pokok dalam perjalanan hidup mereka. Hasilnya adalah bahwa mereka akhirnya mendalami benar bidang ilmu genetika atau matematika itu dan bukan hanya sekadar pengetahuan tipe-tipe sosial.

Beberapa waktu lalu biologiawan IPB mendapatkan penghargaan akademik dari suatu yayasan. Untuk itu ia diberi tunjangan penelitian kira-kira 40.000 dolar AS. Orang ini dikenal sangat menekuni bidang ilmunya. Demikian pula ada seorang dosen yang mendapat hadiah penelitian dalam bidang ilmu serangga dan lingkungan. Ia juga selalu tekun bekerja dalam bidang ilmunya sendiri. Sama halnya dengan dosen Fakultas Peternakan Unsoed yang di Australia menemukan cara penyimpanan mani beku sapi di dalam tabung sedotan yang terbuat dari plastik setelah usahanya berkali-kali gagal. Untuk itu ia menerima hadiah medali emas penelitian Yayasan Hewlett-Packard.

Ketekunan ketiganya itu tentu saja didampingi oleh kalayak akademik yang tinggi. Namun kalayak akademik yang tinggi saja belum cukup untuk membuahkan hasil penelitian yang cemerlang. Diperlukan kreativitas dan ketekunan melakukan tugas yang tinggi. Ketiga ciri ini yang seharusnya dimiliki oleh orang berbakat yang pekerjaannya adalah menciptakan pengetahuan baru dan atau memperbaiki manfaat suatu pengetahuan.

Apakah di masyarakat akademik perguruan tinggi kita suasana ketekunan dan kesetiaan menangani tugas itu ada atau tidak ada, dapat dirangkum dari poster-poster yang ditempelkan di mana saja di dalam kampus yang dapat dilekati kertas. Sayang sekali, pengumuman yang memenuhi dinding kampus bukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemajuan ilmu yang ditekuninya, melain-kan mengenai siraman rohani, bedah buku tentang solidaritas Palestina dan berbagai diskusi mengenai berbagai kebobrokan yang terjadi di tanah air.

Tidak ada gagasan-gagasan ilmiah dalam bidang ilmu tertentu yang diperbicangkan. Tentu saja kita harus peduli mengenai pemeliharaan iman, solidaritas keimanan hingga aplikasi keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Namun kalau yang ditangani hanya itu saja, tidak perlu susah-susah belajar di perguruan tinggi, kecuali kalau kita hanya bermaksud mendapatkan gelar dan ijasah saja, bukan kemampuan dan keahliannya. Jika hanya itu yang kita inginkan, lebih baik mengikuti ujian persamaan B.Sc, M.Sc, Ph.D dan MBA di berbagai yayasan “gombal”.

Bagaimana lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat mengimbangi kemampuan akademik lulusan perguruan tinggi yang sudah mapan di negara maju kalau yang ditekuninya selama belajar di perguruan tinggi bukanlah bidang ilmunya sendiri. Apakah dengan “kematangan bermasyarakat” dengan berkonsentrasi penuh ke kegiatan ekstra kurikuler kita mampu menjadi ilmuwan bertaraf internasional?

Melalui media internet saya pernah diserang habis-habisan ketika yang menjadi pemenang medali perunggu pada olimpiade matematika tingkat Asia Pasifik dan olimpiade matematika internasional hanyalah siswa SMU yang bertapak di Jawa. Ketika itu saya dituduh mendiskriminasikan mereka yang berasal dari Luar Jawa. Hujatan itu memang pantas muncul di zaman reformasi seperti sekarang. Namun seharusnya penghujat yang notabene mahasiswa pascasarjana matematika itu mesti menggunakan nalarnya dan bukan pemikiran dengkulnya. Peraih medali perunggu itu ternyata adalah siswa-siswa yang dengan kecintaan menekuni matem-atika dan kebanyakan dari mereka berasal dari sekolah-sekolah yang diselenggarakan masyarakat (swasta), bukan dari sekolah yang diselenggarakan negara (negeri). Atau kalau ia berasal dari sekolah yang diselenggarakan negara, lingkungan keluarganya adalah lingkungan yang menghargai ketekunan kerja. Siapa mereka itu? Boleh ditebak sendiri, lingkungan keluarga yang mana yang dapat membedakan kapan harus menekuni pelajaran tentang keimanan dan ilmu naqliah dan kapan lagi harus tekun menuntut ilmu aqliah.

Karena itu, hendaknya semua orang yang sedang belajar apa saja, untuk tekun mempelajari apa yang seharusnya dipelajarinya agar mendapatkan kelayakan profesional di dalam bidang yang diminatinya. Jangan terjerumus ke zaman Firaun, ketika seleksi menjadi ahli bedah otak dilakukan dengan cara berendam semalam suntuk di Sungai Nil.
Jangan juga terjerumus ke keadaan di Pakistan, ketika seorang Ph.D Fisika Nuklir lulusan MIT melamar menjadi tenaga akademik. Pertanyaan penguji bukan hal-hal yang pelik mengenai dentuman besar (big bang). Sederhana saja, namun cukup mengejutkan karena Doktor Fisika itu diminta melafalkan Doa Qunut. Jika ia tidak hafal doa Qunut, maka pastilah ia seorang Wahabi.

Mari kita renungkan, apa saja yang dapat kita perbaiki mengenai kehidupan akademik di kampus, baik oleh tenaga akademik, tenaga administrasi maupun mahasiswa. Jika mahasiswa berlaku seperti itu, seharusnya tenaga akademiknya merasa bersalah, karena hal itu pertanda bahwa tenaga akademik belum dapat membawakan suasana
akademik ke dalam kampus, termasuk membawa mahasiswanya ke suasana ingin mengetahui.

Pernah seorang dewan penyantun suatu universitas besar di Jakartayang diselenggarakan masyarakat bertanya pada saya, universitas apa di Indonesia yang suasana akademiknya sudah menyamai suatu universitas penelitian. Jawab saya dengan tegas, belum ada. Dan ketika ia menanyakan alasannya, saya katakan bahwa di kampus saat ini banyak mahasiswa termasuk juga mahasiswa pascasarjana serta dosen hanya menghadiri seminar karena harus menandatangani daftar hadir. Kalau kurang tandatangan di daftar hadir, ada kemungkinan ia tidak boleh ikut ujian atau kredit kenaikan pangkatnya tidak cukup. Kalau begitu halnya, di kampus kita orang hadir di seminar bukan karena ingin tahu lebih banyak, melainkan karena takut tidak lulusujian atau tidak naik pangkat.***