July 2009


Keindahan merupakan sesuatu yang tidak dapat disembunyikan. Setiap orang sudah dikarunia oleh Tuhan untuk bisa menikmati keindahan. Kita tidak perlu lagi berpikir lama atau bertanya kepada orang lain untuk menyatakan keindahan apapun, jika memang sesuatu itu indah adanya. Keindahan bukanlah sesuatu yang harus dibeli, karena setiap orang mampu melihat keindahan…

Sama halnya dengan sebuah foto. Menikmati keindahan foto bukanlah hal yang sulit untuk dipelajari. Semua orang bisa merasakan. Namun, membuat foto yang indah bagi saya bukanlah hal yang mudah…:) Itu sebabnya saya sangat mengagumi orang yang mampu menampilkan sisi keindahan dari sebuah objek pada foto…

Mempelajari fotografi bagi saya bukanlah hal yang mudah. Exposure, Focal Point, Shutter Speed, Aperture, Composition adalah beberapa teknik yang tidak mudah saya pahami… Hmmm… ternyata memiliki sense of the art saja belum cukup yah hehehe…

Beberapa rekan saya yang sudah memiliki pengalaman dan hasil karya yang sangat baik mengatakan kepada saya bahwa teknik-teknik tersebut bisa dipahami dengan mempraktekkannya langsung. Yah, sepertinya memang harus seperti itu… Dalam fotografi, pengalaman, ketekunan dan jiwa seni sangat diperlukan untuk menghasilkan gambar yang indah….

Sunset, gunung, pantai, burung, bunga adalah sebagian dari objek yang memang bisa dinikmati keindahannya langsung oleh mata kita. Tak heran mengapa orang banyak berburu objek2 tersebut untuk difoto… Walaupun objeknya sudah begitu indah, tapi kok foto2 saya masih belum seindah aslinya yah hehehe… Padahal ada rekan saya (mas Arief), yang membidik kuburan dan pasar yang menurut saya bukan objek yang indah, oleh dia objek tersebut bisa disulap menjadi foto yang indah… hmmm… apa sebenarnya yang membuatnya menjadi indah…??

Saya jadi berpikir, ternyata dalam fotografi, apapun bisa menjadi indah.. Semua teknik fotografi seperti exposure, focal point, Shutter Speed, Aperture, Composition diaturnya sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambar yang baik.. Seperti misalnya jika memotret pada kondisi cuaca terang benderang, dan shutter speednya rendah, maka hasil foto akan over exposure, dan sebaliknya jika memotret kondisi kurang cahaya dengan kecepatan tinggi, maka hasil foto akan under exposure. Ini artinya bahwa untuk objek yang sama diperlukan teknik shutter speed yang berbeda, tergantung kepada pencahayaan yang ada pada objek tersebut.

Hmmm…saya jadi membayangkan, jika saja kamera adalah hati/pikiran/IQ manusia, teknik fotografi adalah perilaku/sikap hidup dan fotografer adalah manusianya, maka jika ingin hubungan antar sesama manusia menjadi indah, maka diperlukan teknik berperilaku atau sikap yang tepat/sesuai dengan siapa kita berinteraksi. Jika kesabaran dan pengertian adalah shutter speednya, maka jika ingin membuat segalanya menjadi indah, diperlukan shutter speed yang tinggi jika berhubungan dengan seseorang yang sangat emosional, dan sebaliknya hanya perlu sedikit kesabaran jika berhubungan dengan seseorang yang tidak emosional… begitu kali yah…. ūüėČ

Jadi mungkin kalau pada fotografi untuk menghasilkan gambar yang baik, tidak harus dengan kamera yang mahal, tapi yang penting adalah kemampuan dan imajinasi dari fotografernya … Salah satu rekan saya (mas Wayan) bilang the most important is The Man Behind The Gun… dalam fotografi, ga ada kamusnya foto jelek trs menyalahkan objeknya.. hehehhe..
sedangkan kalau pada kehidupan, untk menghasilkan hubungan yang baik yang paling penting adalah mampu untuk menyesuaikan sikap (attitude) yang tepat… :)

Ada bacaan menarik yang pernah saya baca (http://yeniherdiyeni.wordpress.com/2009/12/15/the-beauty-of-mathematics-and-the-love-of-god/). Dari hitung2an sederhana tersebut, dinyatakan attitude/sikap adalah paling penting.. :).. Kalau saya coba analogikan teknik fotografi adalah sikap dan komposisi warna adalah teori (knowledge), maka artinya keindahan bisa tercipta yang utama adalah dari tekniknya…

Jd mungkin sebaiknya kita tidak langsung menyalahkan (marah) kepada orang lain yah klo kita mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkan karena kalau dalam fotografi yang membuat indah (suasana, perasaan) adalah bagimana “The Man Behind The Gun” bisa menyesuaikan setting attitudenya dengan baik… ūüėČ

Ahh… kok jadi mengkhayal gini yah….. hihihi (tp kok nyambung renungannya sama kejadian di rapat paripurna DPR tentang century yang mirip seperti bonek yang masuk ke lapangan Bola, ini mungkin karena settingan attitudenya blom pas, walaupun pengetahuan tentang pasal aturan sidang ngerti pisan…. :p… hmmmm aya-aya wae…..

Mohon maaf bila kurang berkenan…….

“Saya XX, mahasiswa ibu. Mau nanya, jam berapa yah ibu bisa menemui saya..”
“Bukan gitu pa caranya….. ”
“Kalau laporannya sudah diperiksa, mohon dititip di sekretariat saja bu, nanti saya ambil….”

Itulah beberapa dari kalimat yang pernah saya dengar, baik melalui lisan, sms atau email. Coba bandingkan dengan kalimat dibawah ini:

“Saya XX. mahasiswa Ibu. Mohon informasi bu, jam berapa saya bisa menemui ibu..”
“Begini pa yang saya maksud…”
“Ibu, mohon informasi apakah laporannya sudah bisa saya ambil..”

Kita bisa lihat kalimat itu memiliki makna yang sama bukan..?? Tapi rasanya seperti berbeda yah… hehehe..mungkin itulah yang disebut dengan magic words… ūüėČ atau ada pepatah yang mengatakah “Words are just words and without heart they have no meaning…”..

Disadari atau tidak apa yang kita ucapkan atau apa yang kita tulis, memiliki pengaruh yang sangat besar sekali terhadap apa yang kita ingin sampaikan…. Boleh jadi apa yang ingin kita sampaikan keorang lain, tidak diterima atau diabaikan hanya karena cara kita menyampaikannya. Padahal pastinya semua orang menginginkan apa yang disampaikannya bisa diterima oleh orang lain…:)

Jadi sebenernya apa siy yang harus kita perhatikan saat kita ingin supaya orang lain mendengarkan atau menerima apa yang kita sampaikan…??. Berdasarkan buku “primbon” komunikasi yang pernah saya baca hehe…, ada beberapa hal katanya yang perlu kita perhatikan pada saat berkomunikasi.

1. Use ‘I’ messages. Pemilihan kata memegang peranan penting dalam komunikasi.Contohnya : “Kamu tidak jelas menerangkannya…”, akan lebih baik jika menggunakankan kalimat “Saya tidak mengerti apa yang kamu jelaskan, mohon dijelaskan lagi.. sama juga dengan kalimat “Ibu menemui saya…” akan lebih baik jika kalimatnya menjadi “Saya menemui Ibu… ”

2. Look for compromise. Ketika ada perbedaan pandangan, jangan bersikap “defensive”, tapi sampaikanlah dulu persaamaan pandangan yang ada.

3. Listen Carrefully. Jika orang lain mengkritik kita, maka yang harus dilakukan pertama kali adalah mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan. Jangan melakukan interupsi. Bersikaplah tenang dan berusaha mencoba untuk mencari apa yang benar dari kritik yang dia berikan.

4. Pada saat berbicara, ulangi lagi beberapa kata penting yang dia sampaikan, untuk menunjukkan bahwa kita mendengarkan dengan baik.

5. Usahakan untuk bersikap “bersahabat” sekalipun dia bikin bete..hehee…

Mohon maaf bila kurang berkenan….. :)

Di sekolah, di kuliah, di tempat kerja, di organisasi atau dimana saja kita tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain, itulah sebabnya mengapa kita disebut makhluk sosial, karena memang kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.… Itu artinya, bahwa kita hidup dalam sebuah kelompok/group. Namun dilain pihak tidak jarang pula kita menemui seorang yang membuat keputusan sendiri tanpa memperdulikan orang lain…?? Puaskah anda ketika harus menerima keputusan tersebut..???

Marilah kita belajar bagaimana alam mengajari manusia membuat keputusan…

Sudah banyak dibuktikan oleh beberapa penelitian bahwa alam sesungguhnya memberi kita pelajaran. Semut memberikan pelajaran bagaimana menentukan jalur terpendek melalui algoritme semut (ant algorithm) atau swarm algorithm. Ikan hiu menginspirasi bagaimana membuat kapal laut. Proses genetika menginspirasi bagaimana memiliki populasi terbaik melalui algoritme genetikanya. Mekanisme kerja sel darah putih melawan bakteripun menginspirasi munculnya immune algorithm…Dan masih banyak algoritme lainnya.. Segala puji bagi Allah…

Mari kita coba mempelajari hal lainnya..

Cobalah kita perhatikan mengapa burung pada saat terbang bersamaan/berkelompok menuju kesatu arah…?? perhatikan mengapa semut melalui jalur yang sama untuk menuju sumber makanannya…? Bagaimana lebah menentukan sarang  untuk tempat hidup barunya..?? atau perhatikan mengapa ikan didalam air laut berbondong-bondong berenang menuju arah yang sama….?? Apakah ada salah satu dari anggota hewan tersebut yang memerintahkan untuk menuju ke salah satu arah…??? atau apakah ratu lebah yang menentukan dimana harus dibuat sarang yang baru…?? Jawabannya adalah tidak! Ini didasarkan pada beberapa hasil penelitian [1,2]

Berikut penjelasan singkat dari perilaku hewan tersebut:

Lebah/Semut

Lebah/semut harus membuat keputusan untuk menentukan dimana sarang terbaik harus dibuat untuk tempat hidupnya. Pada kasus ini, lebah atau semut akan mengutus beberapa lebah dengan jumlah tidak lebih dari 5% dari jumlah koloni (scouts) untuk melakukan eksplorasi tempat. Setiap lebah/semut yang diutus tersebut akan mengeksplore satu atau dua tempat dan kemudian saling berkomunikasi satu sama lain. Setelah itu lebah2/semut tersebut akan mengepak2kan sayapnya atau ‚Äúmenari‚ÄĚ untuk meyakinkan lebah lainnya untuk mengunjungi tempat yang dieksplorasinya. Ketika sejumlah lebah itu (scouts) menyetujui salah satu tempat, maka baru koloni akan berpindah ke tempat yang baru tersebut.

Dalam pemilihan lokasi sarang baru diatas, tidak ada sama sekali melibatkan kepentingan salah satu individu. komunikasi hanya dilakukan oleh beberapa individu saja. Oleh para peneliti kemudia dikelompokkan kedalam keputusan ‚ÄúNo conflict of interest, local communication‚ÄĚ

Burung

Mengapa segerombolan burung terbang menuju arah yang sama..? Sebuah hasil penelitian menuliskan bahwa setiap burung sebenarnya setiap burung diberi kebebasan untuk terbang kearah mana saja, dan setiap burung diberi preference untuk berdekatan dengan burung lainnya. Preference itu memiliki bobot. Berdasarkan bobot itulah kemudian burung terbang menuju arah yang sama…

Analogi yang sama terjadi ketika segerombolan anak kecil jalan2 ke mall. Jika salah satu dari mereka ingin mengunjungi tempat yang berbeda, namun ternyata teman lainnya tidak mau, maka anak itupun pada akhirnya tetap akan bersama temannya… J

Dalam kasus ini telah terjadi adanya kepentingan yang berbeda, walaupun kecil. Komunikasi dilakukan secara global atau lokal tergantung ukuran dari koloni. Oleh para peneliti keduain dikelompokkan kedalam keputusan ‚ÄúLittle conflict of interest, global or local communication‚ÄĚ

Bagaimana jika keputusan tersebut melibatkan kepentingan setiap individu (larger conflict of interest..) ??  kita mengenal mekanisme voting. Apakah alam pun mengajari voting..???  Kita lanjutin lagi yah di tulisan selanjutnya… J

Pelajaran penting yang kita bisa ambil adalah, dalam kondisi apapun, alam telah mengajari kepada kita bagaimana melibatkan orang lain dalam mengambil keputusan… :) tapi jangan lupa juga untuk melibatkan Tuhan dalam menentukan keputusan, krn hanya karena Tuhan pulalah binatang2 tersebut ada dalam keteraturan… :)

Moga bermanfaat

Sumber:

  1. Conradt, L & Roper T.J. Concencus decision making in animals. Trends in Ecology and Evolution. Vol 20 No 8 Agustus 2005
  2. Britton, N.F et al. Deciding on a new home: how do honeybees agree?. The Royal Society. Januari 2002.

Berawal sebagai penikmat dan pengagum hasil fotografi temen2 dan orang lain, akhirnya saya “jatuh cinta” juga dengan fotografi… ;). Apalagi setelah berlangganan National Geograhic, keinginan saya untuk menekuni fotografi semakin menjadi.. Akhirnya Alhamdullilah kesampaian juga bisa belajar fotografi.. :)

Beberapa hasil jepretan belajar saya simpan di http://www.flickr.com/photos/yeniherdiyeni/

Ditengah kepenatan saya menyelesaikan studi, ternyata hobi yang satu ini bisa menghilangkan kepenatan itu..

Ada yang lucu ketika aku mencoba kamera SLR dengan memotret keponakan saya yang berumur 4th. Dia sempet ngomel2 “Lama amat siy Motonya… udah pegel niy..!!” begitu ujarnya, ketika saya masih ribet dengan settingan shutter speed dan aperture hehehe…. settingan yang tidak pernah saya perhatikan sebelumnya…hihi

Thanks buat “seseorang” yang anter beli kamera .. :) maybe without u, this never happend to me..¬† :) thanks 4 all..