August 2009


Sabtu kemarin menjadi sabtu yang heboh di lingkungan tempat tinggal saya. Setelah tersiar berita bahwa pelaku bom di JW mariot adalah salah seorang warga ditempat tinggal kami. Sontak saja hari itu para wartawan dan pihak kepolisian mendatangi tempat kami. Sangat disayangkan memang hal itu bisa terjadi di lingkungan kami. Melihat kejadian tersebut, banyak hal menarik yang saya amati dari respon warga dan para wartawan. Setelah kejadian tersebut, kemudian muncul prasangka-prasangka kepada pihak tertentu. Bahkan ada pula yang menyikapinya secara keras dengan melarang kelompok tertentu untuk tinggal di lingkungan kami… hmmmmm……. haruskah sampai bersikap seperti itu..???

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(Qs.al Hujurat : 6)

Ayat diatas merupakan salah satu dasar yang ditetapkan agama dalam kehidupan sosial sekaligus ia merupakan tuntunan logis bagi penerimaan dan pengalaman suatu berita. Kehidupan manusia dan interaksinya haruslah didasarkan hal-hal yang diketahui dan jelas. Manusia sendiri tidak dapat menjangkau seluruh informasi, karena itu ia membutuhkan pihak lain. Pihak lain itu ada yang jujur dan memiliki integritas sehingga menyampaikan hal yang benar, ada pula yang sebaliknya. Karena itu pula berita harus disaring, khawatir jangan sampai seseorang melangkah tidak jelas atau dalam bahasa ayat diatas bijahalah. Dengan kata lain ayat ini menuntut kita untuk menjadikan langkah kita berdasarkan pengetahuan sebagai lawan dari jahalah yang berarti kebodohan, disamping melakukan berdasarkan pertimbangan logis dan nilai-nilai yang ditetapkan Allah SWT, sebagai lawan dari makna kedua dari jahalah.

Senada dengan ayat diatas Allah Subhanahuwataala berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari dugaan, sesungguhnya sebagian dugaan adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta jangan sebagian orang kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging sudaranya yang sudah mati? Maka kamu telah jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (al-Hujurat 12).

Ayat diatas menegaskan bahwa sebagian dugaan adalah dosa yakni dugaan yang tidak mendasar. Biasanya dugaan yang tidak berdasar dan mengakibatkan dosa adalah dugaan buruk terhadap pihak lain. Ini berarti ayat diatas melarang melakukan dugaan buruk yang tanpa dasar, karena dapat menjerumuskan seseorang kedalam dosa. Dengan meghindari dugaan dan prasangka buruk, kita akan hidup tenang dan tentran serta produktif, karena tidak akan ragu terhadap pihak lain dan juga tidak akan menyalurkan energinya untuk hal-hal yang sia-sia.

Tuntunan ini membentengi setiap kita dari tuntutan terhadap hal-hal baru yang bersifat prasangka. Dengan demikian ayat ini mengukuhkan prinsip bahwa tersangka belum dinyatakan bersalah sebelum terbukti kebenaran dugaan yang dihadapkan kepadanya. Memang bisikan-bisikan yang terlintas didalam benak tentang sesuatu dapat ditoleransi, asal bisikan tersebut tidak ditingkatkan menjadi dugaan dan prasangka buruk..

Wa’alahu Alam………

Sumber :

Shihab, M. Quraish., Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Volume 13. 2003.

Logika Fuzzy adalah teknik penalaran ketidakpastian. Dalam ilmu komputer Logika Fuzzy digunakan untuk menangani masalah ketidakpastian. Prof Lotfi Zadeh pada tahun 1965 adalah orang yang pertama kali memperkenalkan teori Fuzzy. Didalam teori fuzzy, kebenaran tidak lagi bersifat absolute 0 atau 1. Namun kebenaran dinyatakan dalam bentuk himpunan nilai dari fungsi keanggotaan (membership function) dengan nilai berada pada interval 0 dan 1. Sebagai contoh jika X menyatakan usia, apakah usia 45 (x=45) dinyatakan tua atau muda..??

Dalam logika fuzzy, dengan menggunakan fungsi keanggotaan tertentu, maka usia X dapat dinyatakan dalam bentuk himpunan fuzzy misalnya (Tua = 0.75; Muda = 0.2). Jika diasumsikan Tua atau Muda adalah sebuah keputusan, maka ini artinya bahwa dalam logika fuzzy, setiap pengambilan keputusan selalu memperhatikan berapa besar kepentingan nilai lainnya, dalam hal ini dinyatakan dengan nilai keanggotaan Tua dan Muda. Sehingga dalam logika fuzzy, keputusan selalu dinyatakan dalam bentuk sebuah himpunan nilai. Tidak seperti logika boolean yang keputusannya selalu bernilai 0 (nol) atau 1 (satu). Inilah yang menyebabkan mengapa logika fuzzy mampu memberikan penalaran yang lebih baik dibanding logika boolean. Dengan kemampuan penalarannya yang baik itulah sudah banyak teknologi yang dibangun dengan menggunakan logika fuzzy.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kita temui kondisi ketidakpastian.Usia tua atau muda adalah sesuatu yang tidak dapat dinyatakan dengan pasti usia berapa yang memisahkan usia tua dan muda. Lain halnya dengan jenis kelamin Laki-laki atau Perempuan yang sudah pasti (absolute), Demikian juga dengan kondisi suhu panas, dingin atau normal. Tidak ada batas suhu yang ablosute untuk membedakan perbedaan suhu tersebut. Kematian adalah sesuatu yang tidak pasti kapan akan tiba. Demikian pula dengan pekerjaan, rezeki, jodoh dll.

Jika demikian adanya, apakah ketidakpastian itu adalah sesuatu yang harus disesali…???

Jika kita melihat hasil dari penalaran fuzzy maka ketidakpastian bukanlah sesuatu yang memperburuk kondisi. Dengan teori fuzzy, ketidakpastian bahkan memberikan hasil penalaran yang lebih baik dari pada teori boolean yang sudah absolute.

Adakah hikmah penting dari teori fuzzy tersebut yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup..?

Logika Fuzzy, dengan segala teorinya mengenai ketidakpastian, telah dapat dibuktikan memberikan hasil penelaran yang lebih baik daripada logika boolean yang bersifat absolute.

Ini artinya bahwa ketidakpastian bukanlah sesuatu yang perlu disesali atau dihindarii.Ketidakpastian seyogyanya membuat kita untuk selalu berpikir memperhatikan kepentingan kondisi lainya. Sehingga keputusan yang diambilpun merupakan keputusan terbaik. Ketidakpastian juga akan mendorong manusia untuk selalu bergantung dan berdoa pada Allah. Dengan demikian insha allah keputusan yang diambil pun adalah juga keputusan Allah.. :)

Logika fuzzy mengingatkanku bahwa tidak ada kejadian sekecil apa pun yang sia-sia … demikian pula dengan ketidakpastian….

Wallah hualam ……