October 2009


Ditulis oleh :
Bapak Julio Adisantoso (staf Ilmu Komputer FMIPA IPB)

Di suatu acara seminar pembelajaran multimedia di suatu perguruan tinggi, saya berkesempatan menyimak paparan rekan sesama pemakalah. Beliau menyajikan dua judul presentasi, salah satunya yang akan saya bagi cerita di sini adalah pembelajaran kontekstual yang lebih dikenal dengan istilah Student Center Learning (SCL). Mungkin soal ini sudah banyak dikupas di pelatihan pekerti atau AA, yang sampai kini pun belum pernah saya ikuti.

Rekan tadi menyajikan dengan sangat menarik, diawali dengan kutipan dari Benjamin Franklin yang sarat makna, yaitu: “Tell me and I forget. Teach me and I may remember. Involve me and I will learn”. Dari sini saya merenung, apakah selama ini saya di kelas hanya bercerita yang membuat mahasiswa melupakannya, hanya mengajar yang membuat mahasiswa menghafal, atau lebih membuat mahasiswa untuk belajar sehingga lebih berkembang? Ternyata saya merasakan bahwa banyak hal yang harus saya lakukan untuk menjadi dosen yang baik. Apalagi jika dihubungkan dengan penilaian yang biasa dilakukan, apakah hanya menilai kemampuan minimal penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap sesuai sasaran kurikulum; ataukah menilai kompetensi seseorang untuk dapat melakukan tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu? Sangat berat ternyata untuk melakukan itu semua.

Ternyata selama ini saya masih pada tahap traditional teaching, yang hasilnya membuat mahasiswa D3C (duduk, dengar, diam, catat), memiliki kemampuan konseptualisasi yang terbatas, tahu/hafal materi pelajaran, tetapi tidak tahu aplikasinya di dunia nyata, apatis, dan tidak dapat “think outside the box”. Nah, dalam SCL, demikian rekan saya tadi memberi tekanan, sudahkan kita melakukan proses pembelajaran bercirikan hal-hal berikut: (1) Fokus  pada  proses; (2) Penekanan  pada  mengetahui  “bagaimana”; (3) Dosen  berperan  sebagai  fasilitator,  narasumber,  dan  mitra; (4) Siswa  bekerja  dalam  kelompok/tim, secara kolektif  dan  kolaboratif; (5) Siswa  bekerja  secara  independen; (6) Siswa  aktif  membangun  dan  mensintesa pengetahuan  dari  banyak  sumber; (7) Kegiatan  belajar  fleksibel dan tak selalu di dalam  kelas; dan (8) Penilaian  dengan  berbagai cara. Oleh karena itu, dalam SCL, metode yang harus dilakukan adalah: (1) Pembelajaran dengan berbagi pengalaman (information sharing); (2) Pembelajaran dengan pengalaman (experience based, experiential learning); dan (3) Pembelajaran melalui pemecahan masalah (problem-solving based).

Memang, tidak semua matakuliah dapat 100% dilakukan pembelajaran seperti itu, namun minimal menjadi tugas saya sebagai dosen untuk membuat pembelajaran lebih berpusat pada mahasiswa, bukan pada dosen. Sulit sekali ternyata, dan saya makin lebih banyak merenung lagi mendengar paparan terakhir rekan saya tersebut, yang berusaha menyimpulkan dalam satu kalimat: “Kampus tempat mahasiswa belajar, BUKAN tempat dosen mengajar”.

Think globally, act locally.. istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh para pemerhati lingkungan hidup pada tahun 60-an. Dalam konteks tersebut tersebut, berpikir global mengandung makna bahwa ketika kita membuat polusi seyogyanya berpikir bahwa polusi tersebut akan merusak bumi. Tapi kita tidak perlu memaksa negara besar untuk menghentikan polusinya, kita bisa mulai mengurangi polusi dari lingkungan kita sendiri. Ini makna dari act locally.

Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca ada seorang president perusahaan aplikasi bisnis yang bernama Tom Ford. Dia menjelaskan bagaimana filosofi dia ketika mendirikan perusahaan di China dan menjual produknya dipasar Asia. Menurutnya yang perlu dipikirkan pertama adalah
– Bagaimana mendesain aplikasi yang tepat yang sesuai dengan budaya pengguna aplikasi di Asia?
– Bagaimana kebiasaan di Asia dan apa-apa saja yang disukai atau diperlukan oleh pengguna aplikasi di Asia?
Pemikirian hal seperti ini menurutnya akan sangat membantu dalam mendesain produk aplikasi. Bukan semata-mata menjual produk aplikasi yang ada di negara Amerika, melakukan impor produk dari sana dan memaksakan pengguna untuk mengikuti panduan yang sudah digunakan di negara tersebut. Tapi yang dilakukan adalah mencari bentuk dan desain yang tepat sesuai dengan budaya dan kepribadian orang Asia. Pelajari apa yang diperlukan oleh pengguna setempat setelah itu mencari cara yang tepat untuk memproduksi aplikasi sesuai dengan yang mereka butuhkan. Tidak dengan memaksakan pengguna setempat untuk melakukan adaptasi terhadap produk yang didesain.

Mereka tidak mengatakan “here’s the way we do things, do it the way we do in New Jersey,”

Tetapi mereka bertanya “what is the most effective way of doing business in your business environment?”

Dari bacaan tersebut saya mendapat pelajaran bahwa …

“Having a global perspective enables us to learn from people all over the world. But narrowing it down to the local is essential in making a business grow…”

“Broaden your vision, yet narrow your focus… ” (mas Wayan, 2009)… Thanks mas quotenya.. :)

Think Globally, Act Locally makes us Thinks Outside the Box

Moga bermanfaat.