June 2010


Sumber : Inside Steve’s Brain. Menyingkap rahasia pemikiran Pendiri Apple.

Pada tahun 1994 Apple mendominasi hampir 10 persen pasar dunia yang nilainya multimiliar dolar untuk komputer pribadi. Apple adalah perusahaan terbesar kedua setelah IBM. Pada triwulan pertama 1996, Apple melaporkan kerugian sebesar $69 juta dan merumahkan 1.300 karyawan. Apple merugi $1.6 miliar, pangsa pasarnya anjlok dari 10 persen ke 3 persen dan saham jatuh.

Pada tahun 1997, Steve Job kembali lagi ke Apple setelah sebelumnya pada tahun 1985 keluar dari Apple setelah berseteru dengan Joh Sculley, yang saat itu menjabat sebagai CEO.

Sekembalinya Steve Job ke Apple, telah banyak membawa perubahan besar. Pada triwulan ketiga 2007, Apple melaporkan catatan keuntungan  $818 juta, sementara Dell yang menjual perangkat lima kali lebih banyak, memperoleh hanya $2.8 juta. Steve Job berhasil menarik Apple dari ambang kebangkrutan. Masih banyak lagi prestasi Steve Job sekembalinya ke Apple.

Apa yang telah dilakukan Steve untuk mencapai prestasinya itu..??

  • Steve telah mengambil keputusan yang sulit dengan kepala tegak. Steve Job membuat beberapa keputusan sulit dan menyakitkan, tetapi dihadapi dengan tegar. Yang dia lakukan diantaranya melakukan pemecatan karyawan yang tidak produktif dan melakukan reorganisasi.
  • Bersikap tegas. Memang tidak mudah untuk bersikap tegas. Namun Steve Job bersikap tegas dan adil ketika memulai restrukturisasinya yang drastis.
  • Berpengetahuan luas; jangan menebak. Steve Job melakukan evaluasi perusahaan dengan detail dan membuat keputusan berdasarkan data, bukan perkiraan.
  • Cari bantuan. Jangan menanggung masalah sendirian. Sejak kemunculan pertamanya pada tahun 1984, Mac OS versi lama telah berubah menjadi campuran kode yang penuh sesak dan tidak stabil. Sungguh merupakan mimpi buruk untuk mempertahankan dan mengupgradenya. Apple memiliki tenaga programmer yang sangat handal, namun Steve Job memutuskan untuk membeli sistem operasi dari perusahaan lain daripada mengembangkannya sendiri karena memerlukan waktu lama. Akhirnya Steve membeli NeXTstep.
  • Fokus. Steve Job memfokuskan sumber daya Apple yang terbatas pada sejumlah kecil project yang dapat dilaksanakan dengan baik.
  • Tetap fokus. Steve Job fokus pada apa yang dia kuasai. Job tidak menyutradai film-film animasi, walaupun di Pixar Steve Job meraih sukses besar menghasilkan film-film animasi. Steve Job fokus pada apa yang dia kuasai dengan baik.
  • Jangan mudah emosi. Evaluasi masalah perusahaan dengan kepala dingin dan tenang.

Apa yang sudah dilakukan Steve Job, sangat menginspirasi saya…

Nantikan lagi yah, pelajaran bermanfaat lainnya dari Steve Job pada bagian 2.. :)

Marilah kita ambil pelajaran dari setiap kejadian yang baik, tanpa harus melihat “atribut” pelakunya…. :)

Semoga bermanfaat.

Dalam menjalankan ibadah seperti sholat, kita dianjurkan untuk melakukannya dengan tumaninah. Mengapa sholat harus tumaninah? tujuannya adalah agar menjadi khusuk dan fokus pada Allah. Caranya adalah dengan melakukan gerakan sholat yang sempurna dan membaca serta memahami bacaan sholat

Apa sih manfaatnya khusuk? manfaatnya agar pikiran menjadi tenang dan damai sehingga pikiran akan lebih konsentrasi, tindakan kita akan diringi dengan kesadaran tinggi, dan kita bisa mengendalikan pikiran kita. Dengan demikian pikiran kita akan terpusat pada pikiran yang kita pilih dan akan menghasilkan energi yang luar biasa. Itulah sebagian manfaat dari sholat yang rutin kita kerjakan..

Mengapa Allah memerintahkan hambanya sholat? tentunya karena Allah menginginkan kebaikan bagi hambanya. Sholat seyogianya memberikan manfaat besar kepada seluruh kehidupan manusia.

Lalu, apakah ajaran tumaninah pada sholat berkaitan dengan aktifitas kita sehari-hari..??

Ketika pulang tadi sore sambil mengendarai mobil, saya berpikir mengapa terkadang saat kuliah kita sulit memahami materi atau tidak bisa menjawab soal pada saat ujian?  saya juga berpikir mengapa harus melakukan rapat berjam-jam dan berkali-kali dan tidak menghasilkan kesepakatan yang paling baik??? mungkin karena aktivitas ini tidak kita lakukan dengan tumaninah..

Contoh saja, ada mahasiswa yang pada saat kuliah terbiasa membuka laptop, walaupun dosen sedang menerangkan didepan kelas, atau ada kebiasaan pegawai atau staf yang membuka laptop pada saat rapat dan melakukan aktifitas yang lain pada laptopnya.

Saya mencoba mengkaitkan ajaran sholat dengan aktifitas tersebut. Saya membayangkan betapa Allah maha pengasih dan penyayang karena sudah mengajarkan umatnya untuk melakukan sholat min 5 kali dalam sehari, apa tujuannya..?? sebagiannya adalah agar terbiasa untuk bisa tumaninah dan khusuk.

Pada saat kuliah kita jelas melihat dosen secara fisik, dan pada saat rapat kita juga melihat pimpinan atau rekan rapat secara nyata.. tapi pada saat sholat kita dilatih untuk “melihat” dan merasakan hal yang tidak terlihat secara fisik yaitu Allah… Jika saja dengan sholat kita bisa khusuk dan tumaninah dengan baik, insha allah untuk kuliah dan rapat bisa lebih mudah karena fokus utamanya jelas terlihat…

Sebuah artikel senada juga pernah saya baca. Artikel ini saya kutip dari Detik.com

Jakarta – Tahukah Anda mengapa meeting selalu berlarut-larut, menjemukan dan hasilnya cenderung tak optimal? Ternyata salah satu penyebabnya adalah karena peserta meeting membawa laptop (ataupun blackberry dan smartphone)! Kok bisa?

Berikut ini 5 (lima) alasannya, berdasarkan pengalaman penulis + sejumlah contoh kasus yang tersedia di Internet:

  1. Meeting dengan seluruh atau sebagian besar peserta membawa laptop, akan berdampak pada semakin minimnya komunikasi non-verbal antar peserta rapat. Bahasa non-verbal, adalah komponen tak terpisahkan dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan sesama manusia, bahkan antar mahluk hidup. Anggukan kepala, picingan mata, gerak bibir, posisi duduk, letak tangan, adalah hal yang paling penting untuk mengukur tingkat perhatian (ketertarikan) peserta meeting, pemahaman dan lainnya. Meeting pun menjadi berlarut-larut
  2. Saat pihak lain sedang melakukan presentasi gagasan atau laporannya, maka kecenderungan peserta meeting lainnya yang membawa laptop akan lebih sibuk mengutak-atik materi presentasi masing-masing. Ini adalah akibat dari ketidaksiapan untuk menghadiri meeting, atau minimnya waktu yang tersedia untuk melakukan persiapan tersebut. Menyiapkan ataupun merapihkan materi presentasi saat meeting tengah berlangsung,adalah salah satu bentuk kerja yang kontra-produktif.
  3. Peserta meeting dengan membawa laptop cenderung akan lebih berinteraksi dengan laptopnya, ketimbang dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya untuk mengusir kebosanan saat meeting, maka mereka akan bermain game, hingga chatting, browsing ataupun blogging apabila ada akses Internet. Walhasil, pihak yang sedang presentasi tidak akan mendapatkan respon yang interaktif. Feedback dari peserta meeting pun menjadi minim, yang akhirnya berdampak pada tidak matangnya output yang dihasilkan.
  4. Juga dengan adanya akses Internet, maka peserta meeting yang membawa laptop akan cenderung membentuk kelompok kecil eksklusif secara online, yang anggotanya adalah sebagian dari peserta meeting tersebut. Kelompok kecil ini akan membuat diskusi terpisah, melalui fitur messenger, dengan konten diskusi yang bisa jadi tidak konstruktif. Bentuknya pun beragam, bisa sekedar saling melempar joke, sampai membicarakan (dalam konteks negatif) pihak yang sedang melakukan presentasi, materinya ataupun peserta meeting yang lain.
  5. Meeting seharusnya adalah sebuah bentuk koordinasi ataupun integrasi antar unit/divisi, atau bisa juga sebagai akselerasi ataupun sinkronisasi. Tetapi yang terjadi, ketika peserta meeting membawa laptop, maka dia bisa tergoda untuk melakukan pekerjaan pararel, semisal diselingi dengan menggarap kerjaan lainnya yang tertunda karena harus menghadiri meeting. Aktifitas pararel, bukan berarti dapat berpikir ataupun menganalisis sesuatu secara parerel. Karena otak sejatinya akan berpikir dengan berlompat-lompat, “pause” di satu hal, dan “play” di hal lain. Sehingga buah pikir yang dihasilkan cenderung menjadi tidak optimal lantaran tidak fokus.

Dalam menjalankan ibadah seperti sholat, kita dianjurkan untuk melakukannya dengan tumaninah. Mengapa sholat harus tumaninah? tujuannya adalah agar menjadi khusuk dan fokus pada Allah. Caranya adalah dengan melakukan gerakan sholat yang sempurna dan membaca serta memahami bacaan sholat

Apa sih manfaatnya khusuk? manfaatnya agar pikiran menjadi tenang dan damai sehingga pikiran akan lebih konsentrasi, tindakan kita akan diringi dengan kesadaran tinggi, dan kita bisa mengendalikan pikiran kita. Dengan demikian pikiran kita akan terpusat pada pikiran yang kita pilih dan akan menghasilkan energi yang luar biasa. Itulah sebagian manfaat dari sholat yang rutin kita kerjakan..

Mengapa Allah memerintahkan hambanya sholat? tentunya karena Allah menginginkan kebaikan bagi hambanya. Sholat seyogianya memberikan manfaat besar kepada seluruh kehidupan manusia.

Lalu, apakah ajaran tumaninah pada sholat berkaitan dengan aktifitas kita sehari-hari..??

Ketika pulang tadi sore sambil mengendarai mobil, saya berpikir mengapa terkadang saat kuliah kita sulit memahami materi atau tidak bisa menjawab soal pada saat ujian?  saya juga berpikir mengapa harus melakukan rapat berjam-jam dan berkali-kali dan tidak menghasilkan kesepakatan yang paling baik??? mungkin karena aktivitas ini tidak kita lakukan dengan tumaninah..

Contoh saja, ada mahasiswa yang pada saat kuliah terbiasa membuka laptop, walaupun dosen sedang menerangkan didepan kelas, atau ada kebiasaan pegawai atau staf yang membuka laptop pada saat rapat dan melakukan aktifitas yang lain pada laptopnya.

Saya mencoba mengkaitkan ajaran sholat dengan aktifitas tersebut. Saya membayangkan betapa Allah maha pengasih dan penyayang karena sudah mengajarkan umatnya untuk melakukan sholat min 5 kali dalam sehari, apa tujuannya..?? sebagiannya adalah agar terbiasa untuk bisa tumaninah dan khusuk dalam sholat.

Pada saat kuliah kita jelas melihat dosen secara fisik, dan pada saat rapat kita juga melihat pimpinan atau rekan rapat secara nyata.. tapi pada saat sholat kita dilatih untuk “melihat” dan merasakan hal yang tidak terlihat secara fisik yaitu Allah… Jika saja dengan sholat kita bisa khusuk dan tumaninah dengan baik, insha allah untuk kuliah dan rapat bisa lebih mudah karena fokus utamanya jelas terlihat…

Sebuah artikel senada juga pernah saya baca. Artikel ini saya kutip dari Detik.com

Jakarta – Tahukah Anda mengapa meeting selalu berlarut-larut, menjemukan dan hasilnya cenderung tak optimal? Ternyata salah satu penyebabnya adalah karena peserta meeting membawa laptop (ataupun blackberry dan smartphone)! Kok bisa?

Berikut ini 5 (lima) alasannya, berdasarkan pengalaman penulis + sejumlah contoh kasus yang tersedia di Internet:

  1. Meeting dengan seluruh atau sebagian besar peserta membawa laptop, akan berdampak pada semakin minimnya komunikasi non-verbal antar peserta rapat. Bahasa non-verbal, adalah komponen tak terpisahkan dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan sesama manusia, bahkan antar mahluk hidup. Anggukan kepala, picingan mata, gerak bibir, posisi duduk, letak tangan, adalah hal yang paling penting untuk mengukur tingkat perhatian (ketertarikan) peserta meeting, pemahaman dan lainnya. Meeting pun menjadi berlarut-larut
  2. Saat pihak lain sedang melakukan presentasi gagasan atau laporannya, maka kecenderungan peserta meeting lainnya yang membawa laptop akan lebih sibuk mengutak-atik materi presentasi masing-masing. Ini adalah akibat dari ketidaksiapan untuk menghadiri meeting, atau minimnya waktu yang tersedia untuk melakukan persiapan tersebut. Menyiapkan ataupun merapihkan materi presentasi saat meeting tengah berlangsung,adalah salah satu bentuk kerja yang kontra-produktif.
  3. Peserta meeting dengan membawa laptop cenderung akan lebih berinteraksi dengan laptopnya, ketimbang dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya untuk mengusir kebosanan saat meeting, maka mereka akan bermain game, hingga chatting, browsing ataupun blogging apabila ada akses Internet. Walhasil, pihak yang sedang presentasi tidak akan mendapatkan respon yang interaktif. Feedback dari peserta meeting pun menjadi minim, yang akhirnya berdampak pada tidak matangnya output yang dihasilkan.
  4. Juga dengan adanya akses Internet, maka peserta meeting yang membawa laptop akan cenderung membentuk kelompok kecil eksklusif secara online, yang anggotanya adalah sebagian dari peserta meeting tersebut. Kelompok kecil ini akan membuat diskusi terpisah, melalui fitur messenger, dengan konten diskusi yang bisa jadi tidak konstruktif. Bentuknya pun beragam, bisa sekedar saling melempar joke, sampai membicarakan (dalam konteks negatif) pihak yang sedang melakukan presentasi, materinya ataupun peserta meeting yang lain.
  5. Meeting seharusnya adalah sebuah bentuk koordinasi ataupun integrasi antar unit/divisi, atau bisa juga sebagai akselerasi ataupun sinkronisasi. Tetapi yang terjadi, ketika peserta meeting membawa laptop, maka dia bisa tergoda untuk melakukan pekerjaan pararel, semisal diselingi dengan menggarap kerjaan lainnya yang tertunda karena harus menghadiri meeting. Aktifitas pararel, bukan berarti dapat berpikir ataupun menganalisis sesuatu secara parerel. Karena otak sejatinya akan berpikir dengan berlompat-lompat, “pause” di satu hal, dan “play” di hal lain. Sehingga buah pikir yang dihasilkan cenderung menjadi tidak optimal lantaran tidak fokus.