April 2012


  

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil (Wahyono dan Shalahuddin, 2011). Indonesia memiliki keanekaragaman hayati lebih dari 38.000 spesies (Bappenas 2003). Pada tahun 2002, tercatat bahwa di Indonesia terdapat spesies tumbuhan obat sebanyak 22.500 dan jumlah spesies yang sudah digunakan sebagai tumbuhan obat sebanyak 1.000 spesies (Groombridge dan Jenkins, 2002). Ini berarti jumlah persentasi tumbuhan obat yang sudah dimanfaatkan sedikit sekali yaitu hanya sebesar 4.4 persen dari sumberdaya tumbuhan obat yang tersedia. Apa penyebabnya? Salah satunya penyebabnya adalah minimnya pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan obat. Jika hal ini terus menerus dibiarkan maka lambat laun tumbuhan obat ini akan punah.

Berdasarkan permasalahan ini, kami dari Lab keilmuan Kecerdasan Komputasional Departemen Ilmu Komputer IPB (Dr. Yeni Herdiyeni dan Ir. Julio Adisantoso, M.Komp) bersama dengan staf pengajar dari Departemen KSHE Fahutan IPB (Prof. Evrizal Amzu dan Ellyn K. Damayanti, Ph.D Agr), sejak dua tahun yang lalu mencoba melakukan penelitian bersama dengan mahasiswa untuk mengembangkan sebuah teknologi tepat guna yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mencari informasi dan membantu melakukan identifikasi tumbuhan obat. Aplikasi ini dibangun dengan menggunakan teknologi Computer Vision dan Search Engine. Selain mengembangkan aplikasi berbasis web, kami juga melakukan penelitian untuk mengembangkan aplikasi mobile tumbuhan obat menggunakan Android yang kami berinama MedLeaf. Informasi selengkapnya bisa anda baca di : http://cs.ipb.ac.id/~labci/MedLeaf.htm.

Semoga Bermanfaat.

Hari ini adalah hari kedua saya datang ke kantor Imigrasi untuk melakukan pemotretan dan wawancara untuk perpanjangan paspor saya. Saya tiba di kantor imigrasi pukul 7.30 dengan harapan bisa selesai sebelum pukul 12 karena jam 12.30 saya ada rapat. Ternyata antrian sudah panjang dan saya mendapat nomor antrian 42. Sebagai warga negara yang baik, saya pun menunggu antrian. Pukul 9 nomor antrian saya pun dipanggil untuk melakukan pembayaran. Saya pun menuju loket. Tapi kemudian petugas loket bilang, berkas saya belum discan, jadi saya disuruh menunggu lagi, nanti dipanggil katanya. saya berpikir, Kok bisa belum discan padahal saya sudah menungumpulkan berkas sejak tiga hari yang lalu, tepatnya hari senin. Sesuai dengan ketentuan saya kembali lagi hari kamis. Ya sudah saya pun menurut saja untuk menunggu.

Setengah jam kemudian saya dipanggil lagi ke loket, tapi ternyata kemudian petugas bilang, saya diminta kembali ke bagian berkas. Saya pun menuju ke bagian berkas dan petugas berkas bilang bahwa saya tidak dapat memperpanjang panspor, karena ditolak sistem dengan alasan saya pernah memperpanjang paspor. Tentu saja saya kaget, siapa yang memperpanjang paspor, saya hanya punya satu paspor hijau yang sudah berakhir tahun 2010. Saya sampaikan bahwa saya tahun lalu menggunakan paspor biru untuk pergi ke Jepang. Tidak menggunakan paspor hijau, karena memang sudah expire. Karena saya bersikeras tidak pernah memperpanjang paspor, maka saya pun diminta untuk menemui pa Ridwan dibagian kantor Imigrasi. Saya pun masuk ke kantor dan mencoba menemui pa Ridwan. Baru saja saya masuk kedalam ruangan dan menanyakan pa Ridwan yang mana, petugas yang bernama pa Ridwan itu langsung bilang, “Sistem yang tolak bu”!” ujar dia dengan tidak ramah. Padahal saya pun belum menjelaskan apa-apa. Akhirnya saya pun terpancing emosi karena diperlakukan seperti itu dan kembali menegaskan bahwa saya tidak pernah memperpanjang paspor. Petugas itu malah bilang, “Ibu memperpanjang paspor di Bandung”. Karuan saja saya tambah kaget, ngapain juga saya memperpanjang paspor di Bandung.
Untung saja ada seorang petugas lain yang berusaha mengecek kembali data saya di komputer dan kemudian dia bilang bahwa data saya bukan ditolak sistem tapi belum discan oleh petugas… Ya Allah…. kesalahan siapa lagi ini…! Untung saja saya masih bisa membaca istigfar melihat perlakukan petugas imigrasi itu. Mungkin saya akan lebih lagi adem lagi jika pa Ridwan itu minta maaf ke saya. Tapi sudahlah tidak ada gunaanya berharap pada petugas seperti itu.

Akhirnya setelah mereka scan datanya, saya pun bisa melakukan pembayaran paspor. Tapi perjuangan belum selesai….. saya masih harus antri lagi untuk foto dan wawancara.

Pukul 11 nomor antrian saya dipanggil untuk foto dan wawancara. Saya pun kembali menunggu diruang foto. Antri lagi… Saya pun menunggu dengan manisnya petugas memanggil nama saya. Tapi sudah setengah jam lebih, saya masih belum dipanggil juga. Akhirnya saya pun berdiri dan melihat berkas lain di meja foto. Ternyata berkas yang sedang diproses nomor antrinya 66 padahal nomor antri saya 42. Ya Allah masalah apalagi ini…. saya pun kembali menanyakan ke petugas itu, dan ternyata berkas saya tidak ada ditumpukkan berkas. Saya pun kembali menghela nafas panjang… mungkin nafas terpanjang seumur hidup saya…..

Bukannya dilayani dengan baik, salah seorang petugas foto malah bilang, “Sabar bu.. semua orang juga pengin cepat.., ” Saya pun tidak mengindahkan omongan bodoh itu, tapi saya tetap menginginkan dimana berkas saya. Ternyata berkas saya masih dibagian pembayaran, belum dimasukkan ke bagian foto. Astagfirrallhalazim………

Setelah berkas saya masuk, saya baru bisa di foto dan setelah itu menunggu lagi untuk wawancara… ya menunggu lagi..

Sambil menenangkan diri dan menunggu dipanggil untuk wawancara, saya pun duduk dibagian belakang petugas foto. Sambil menunggu, saya melihat salah seorang petugas foto, malah main game di komputernya, padahal waktu belum jam 12. Benar-benar membuat geram melihat kelakukan petugas itu. Saya sempat mengambil foto petugas yang sedang main game itu. .

Walhasll jam menunjukkan jam 12 dan saya pun harus menunggu lagi sampai jam 1 karena petugas istirahat. Ya sudahlah saya manfaatkan untuk segera sholat Dzuhur agar bisa menenangkan saya.

Pukul 13 saya kembali ke ruang wawancara dan menunggu antrian lagi. Aneh sekali nomor antrian dibawah saya malah dipanggil lebih dulu. Saya sampaikan ke petugas kenapa ga dipanggil nomor urutnya saja. Tapi dia menjawab “Dari dulu sudah begini bu… ” hmmmm ya sudahlah…

Akhirnya pukul 13.30 saya baru dipanggil untuk wawancara. Alhaamdullilah akhirnya dipanggil juga.

Perjuangan urus paspor belum selesai…. hari rabu depan baru selesai paspor itu.

hmmmmmm…. mau sampai kapan Indonesia seperti ini… ??? :( (untuk foto dan wawancara saja butuh waktu 7 JAM!!!