kuliah


Fast track adalah program percepatan studi, dimana seseorang mahasiswa dapat menyeselesaikan program S-1 kurang dari 8 semester dan S-2 kurang dari 4 semester asal sks minimum tercukupi, mahasiswa tetap dapat ijzazah S-1 dan S-2 (Sumber: Panduan Program Beasiswa Unggulan DIKTI). Tujuannya adalah untuk memproduksi sarjana S1 dan S2 lebih cepat. Mahasiswa yang dapat mengambil program ini tentunya harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Saya ingin berbagi fenomena yang muncul dengan adanya program Fast Track ini. Alhamdullilah selama ini mahasiswa bimbingan saya, sebagian besar memiliki prestasi yang cukup baik. Sampai saat ini ada tiga mahasiswa bimbingan saya yang mengambil program Fast Track. Tentu saja mahasiswa tersebut memiliki prestasi akademik yang baik dan tentunya memenuhi syarat. Namun selama proses pembimbingan tugas akhir, saya mengamati beberapa dampak negatif yang muncul akibat program fast track tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa dalam pelaksanaanya, mahasiwa yang mengambil program fast track mengambil mata kuliah S2 pada tahun ke-4 bersamaan dengan dengan pengerjaan tugas akhir. Disinilah muncul pokok permasalahannya. Melakukan riset itu tidaklah sama dengan mengikuti perkuliahan. Melakukan riset memerlukan waktu yang banyak untuk melakukan eksplorasi membaca jurnal, buku, melakukan eskperimen dll. Melakukan riset itu perlu “Passion”. Tidaklah mudah mencerna penelitian orang lain dari jurnal/publikasi. Perlu waktu yang sangat banyak sekali untuk membaca berulang kali makalah/paper yang sedang dipelajari. Saya ingin katakan, membaca paper penelitian itu perlu “dinikmati”…

Selain membaca paper, mahasiswa saya setiap minggu perlu menyampaikan progress risetnya secara rutin. Namun dilain pihak mahasiswa tersebut terbebani juga dengan tugas-tugas perkuliahan S2. Ini tentu saja membuat mahasiswa “STRESS” !! dan pada akhirnya tidak lagi “menikmati” apa yang sedang dipelajari…. Apakah pembelajaran seperti ini baik!!?? tentu saja tidak.!!  

Proses pembelajaran itu harus “dinikmati”, tidak bisa dilakukan dengan “tergesa-gesa”!… Selain itu juga dalam melakukan riset harus banyak membaca literatur lalu mencerna literatur itu dengan baik. Sistem kerja otak itu sama rumitnya dengan sistem kerja pencernaan. Mengunyah makanan saja tidak boleh tergesa-gesa, agar sistem pencernaan dapat mencerna makanan dengan baik dan “TIDAK STRESS” akibat dipaksakan. Demikian pula dengan sistem kerja otak! … Jika prestasi mahasiswa tidak benar-benar “EXCELLENT” maka FAST TRACK sama dengan FAST FOOD. Tidak Sehat!

Nikmati “PROSES PEMBELAJARANNYA”. Jangan tergesa-gesa! Proses yang dilakukan secara paralel itu BELUM TENTU BAIK KOK!!…

Jika saya menjadi mahasiswa lagi, saya akan memilih menyelesaikan tugas akhir saya sebaik dan secepat mungkin , setelah itu baru melanjutkan studi lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

 

 

Somewhere over the rainbow, 29 Maret 2014

Siang ini saya mendapat pesan email dari seorang mahasiswa saya. Sebutlah dia Anton.

Assalamu’alaikum buk yeni.. maaf mengganggu.. pikiran saya terbuka atas ibu yang paparkan minggu lalu.. tp, jujur saya memang kurang motivasi buk karna belum mengetahui passion saya kemana.. gairah saya masih kurang untuk melihat sesuatu karna masih takut-takut kedepannya gmn.. jd, klu boleh bertanya buk.. baiknya apa yg saya lakukan?? metode belajar yang bagaimana baiknya saya terapkan.. soalnya dengan adanya ikut berorganisasi cukup membuat saya lelah dan tidak cukup waktu lagi buat belajar.. terima kasih buk atas waktunya.

Anton adalah salah satu mahasiswa yang saya tegur ketika kuliah karena dia tidak melakukan aktifitas apapun pada saat mengikuti perkuliahan. Dia hanya duduk di kursi dengan tangan melipat di meja dan menatap ke depan tanpa terlihat sedikitpun dia menikmati kuliah. Setelah melihat kondisi tersebut, maka saya sempatkan untuk menjelaskan sedikit mengenai “forgetting curve” kepada mahasiswa. Agar mahasiswa bisa membaca secara detail, selesai kuliah, malam harinya saya menyempatkan menulis secara detail mengenai “forgetting curve“. Silahkan dapat dibaca di sini.

Pada kesempatan yang lain, saat diskusi riset mingguan di lab bersama dengan mahasiswa saya, ada seorang mahasiswa yang menangis karena merasa “dipaksa” kuliah di jurusannya saat ini oleh orang tuanya. Dari keterpaksaan itulah akhirnya dia tidak sungguh-sungguh menjalani kuliahnya dan terpaksa harus mengulangi mata kuliah.. Sungguh saya prihatin sekali mendengarkan ceritanya..

Hmmm…Berawal dari kisah itulah kemudian saya ingin menyampaikan pengalaman saya melalui tulisan ini… Ketika saya SMA saya ingin sekali menjadi dokter. Oleh karenanya saya pun masuk jurusan Biologi, walau guru saya menyarankan saya masuk Fisika. Saya keukeuh dengan keinginan saya  menjadi dokter. Selepas SMA saya mendapat beasiswa PMDK (jalur tanpa tes) untuk masuk ke IPB dengan jurusan Ilmu Komputer.. saat itu bingung, bagaimana dengan passion saya menjadi dokter?? Tetapi saat itu orang tua saya menasihati saya untuk mengambil saja PMDK itu dan dengan bijaksana ortu saya bilang, tahun depan, kalau kamu masih penasaran kamu bisa coba tes UMPTN untuk kuliah kedokteran. Saat itu pun saya patuh dengan ortu karena saya tidak ingin mengecewakan mereka. Bisa anda bayangkan ilmu komputer dan kedokteran dua dunia yang berbeda… tetapi saya mencoba menekuni dengan baik bidang itu dengan belajar dengan baik dan kuliah dengan baik. Salah satu pelajaran yang diberikan orang tua saya yang selalu saya ingat adalah “Allah tidak membuat kejadian yang sia-sia, sekecil apapun kejadian itu…”. Dari pesan itu saya meyakini, apa yang terjadi pada saya pada saat itu dan kini, itulah cara Allah menunjukkan saya jalan yang terbaik…. Maka waktu itu saya pun tidak lagi terlalu memikirkan passion saya menjadi dokter.. saya jalani saja dengan cara terbaik saya…

Saat ini, saya menjadi seorang dosen.. Apakah saya menyesal menjadi dosen ?! Tentu saja tidak… :) Saya menikmati perjalanan hidup saya, termasuk juga menjalani pendidikan.  Saat ini saya sudah menyelesaikan studi S3 dengan bidang yang sama. S1, S2, dan S3 saya ilmu komputer… Saya mendapatkan banyak sekali nikmat melalui perjalanan hidup saya ini. Alhamdulillah…:)  Lalu kemanakah passion saya… Apa yang sudah bisa kerjakan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, itulah passion saya..!!

Somewhere over the rainbow, 29 Maret 2014

Siang ini saya mendapat pesan email dari seorang mahasiswa saya. Sebutlah dia Anton.

Assalamu’alaikum buk yeni.. maaf mengganggu.. pikiran saya terbuka atas ibu yang paparkan minggu lalu.. tp, jujur saya memang kurang motivasi buk karna belum mengetahui passion saya kemana.. gairah saya masih kurang untuk melihat sesuatu karna masih takut-takut kedepannya gmn.. jd, klu boleh bertanya buk.. baiknya apa yg saya lakukan?? metode belajar yang bagaimana baiknya saya terapkan.. soalnya dengan adanya ikut berorganisasi cukup membuat saya lelah dan tidak cukup waktu lagi buat belajar.. terima kasih buk atas waktunya.

Anton adalah salah satu mahasiswa yang saya tegur ketika kuliah karena dia tidak melakukan aktifitas apapun pada saat mengikuti perkuliahan. Dia hanya duduk di kursi dengan tangan melipat di meja dan menatap ke depan tanpa terlihat sedikitpun dia menikmati kuliah. Setelah melihat kondisi tersebut, maka saya sempatkan untuk menjelaskan sedikit mengenai “forgetting curve” kepada mahasiswa. Agar mahasiswa bisa membaca secara detail, selesai kuliah, malam harinya saya menyempatkan menulis secara detail mengenai “forgetting curve“. Silahkan dibaca di sini.

Pada kesempatan yang lain, saat diskusi riset mingguan di lab bersama dengan mahasiswa saya, ada seorang mahasiswa yang menangis karena merasa “dipaksa” kuliah di jurusannya saat ini oleh orang tuanya. Dari keterpaksaan itulah akhirnya dia tidak sungguh-sungguh menjalani kuliahnya dan terpaksa harus mengulang mata kuliah lagi….. Sungguh saya sangat prihatin sekali mendengarkan ceritanya :(

Hmmm…Berawal dari kisah itulah saya ingin menyampaikan pengalaman saya melalui tulisan ini… Ketika saya SMA saya ingin sekali menjadi dokter. Oleh karena itu saya pun masuk jurusan Biologi, walau guru saya menyarankan saya masuk Fisika. Saya keukeuh dengan keinginan saya  menjadi dokter.

Selepas SMA saya mendapat beasiswa PMDK (jalur masuk IPB tanpa tes)  dengan jurusan Ilmu Komputer.. saat itu bingung, bagaimana dengan passion saya menjadi dokter?? Tetapi saat itu orang tua saya menasihati saya untuk mengambil saja PMDK itu dan dengan bijaksana orang tua saya mengatakan, tahun depan, kalau kamu masih penasaran kamu bisa coba tes UMPTN untuk kuliah kedokteran. Saat itu pun saya patuh dengan orang tua karena saya tidak ingin mengecewakan mereka. Bisa anda bayangkan ilmu komputer dan kedokteran dua dunia yang berbeda… tetapi saya mencoba menekuni dengan baik melalui belajar sebaik mungkin. Salah satu pelajaran yang diberikan orang tua saya yang selalu saya ingat adalah “Allah tidak membuat kejadian yang sia-sia, sekecil apapun kejadian itu...”. Dari pesan itu saya meyakini, apa yang terjadi pada saya pada saat itu dan kini, itulah cara Allah menunjukkan saya jalan yang terbaik…. Maka waktu itu saya pun tidak lagi terlalu memikirkan passion saya menjadi dokter.. saya jalani saja dengan cara terbaik saya…

Saat ini, saya menjadi seorang dosen.. Apakah saya menyesal menjadi dosen ?!! Tentu saja tidak… :) Saya menikmati semua perjalanan hidup saya, termasuk juga menjalani pendidikan.  Saat ini saya sudah menyelesaikan studi S3 dengan bidang yang sama. S1, S2, dan S3 saya Ilmu Komputer… Saya mendapatkan banyak sekali nikmat melalui perjalanan hidup saya ini. Alhamdulillah…:)  Lalu kemanakah passion saya…?? Apa yang sudah saya kerjakan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, itulah passion saya..!!

Ingin tampil dan terlihat cerdas pada saat presentasi? Pastikan anda menguasai apa yang ingin anda sampaikan. Jangan sampai terjadi suasana seperti gambar dibawah ini …. :)

Steve Job mengatakan “You’re time is limited so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma–which is living with the result of other people’s thinking. Don’t let the noise of other opinions drown out your own inner voice”.

Oleh karena itu buatlah presentasi yang efektif agar dalam waktu yang disediakan, kita mampu menyampaikan pemikiran kita dengan baik kepada orang lain. Presentasi adalah bagian dari penelitian, oleh karena itu jangan sepelekan presentasi. Persiapkan presentasi dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana membuat dan menyampaikan presentasi riset yang efektif, khususnya pada saat seminar dan sidang hasil riset?

Pada umumnya waktu yang disediakan untuk presentasi seminar dan sidang hanya 15-20 menit. Perlu dipahami bahwa menulis presentasi tidak sama dengan menulis laporan. Oleh karena itu beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:

  1. Mulailah dengan menyampaikan latar belakang penelitian, tujuan dan ruang lingkup penelitian. Menurut saya bagian inilah yang paling penting dalam sebuah presentasi. Pada bagian inilah kita akan mengarahkan pemikiran orang lain. Oleh karena itu jangan menganggap sepele bagian ini. Dalam konteks presentasi riset, pastikan bahwa pada bagian latar belakang ada tiga hal yang harus disampaikan yaitu penjelasan masalah (problem definition), penjelasan mengenai riset yang sudah dilakukan dan relevan dengan penelitian yang akan dilakukan (previous research) dan penelitian yang diusulan (Proposed Research). Saya yakin ketika masalah dan penelitian terkait dijelaskan dengan baik, maka tujuan dan ruang lingkup penelitian dapat didefinisikan dengan baik.
  2. Menyampaikan metode penelitian. Pada presentasi seminar dan sidang hasil penelitian tidak perlu ada tinjauan pustaka.  Teori/konsep yang digunakan dijelaskan pada saat menjelaskan metode penelitian. Dengan demikian tidak akan terjadi pengulangan penjelasan konsep.Khusus untuk ilmu komputer, sebagian besar penelitian menerapkan atau mengembangkan algoritme, Ketika sebuah algoritma dikembangkan pastinya akan diawali dengan sebuah “ide” atau intuisi. Oleh karena itu, cobalah untuk menemukan “ide” atau intuisi dari algoritma tersebut. Pada beberapa hal, ide sebuah algoritma didasari oleh masalah yang muncul. Oleh karena itu pahami permasalahan riset dengan baik. Sehingga dengan demikian dengan waktu yang sangat terbatas tersebut,  tidak perlu untuk menjelaskan secara detail tahapan algoritma yang dilakukan. Selain lebih mudah dipahami, menyampaikan ide atau intuisi dari sebuah algoritma akan lebih menarik. Apalagi jika dibantu dengan ilustrasi gambar. Tapi ingat, sesuaikan gambar yang anda gunakan dengan konsep yang akan dijelaskan. Tidak perlu harus selalu blink-blink heehhe.Ide atau intuisi sebuah algoritme harus bisa dijelaskan dengan bahasa yang sederhana (atau membumi hehe).  Memang seringkali bukan hal yang mudah untuk menemukan ide dasar/intuisi dari sebuah algoritma. Tanyakanlah kepada pembimbing anda untuk mendapatkan penjelasannya.
  3. Hasil penelitian. Ketika menjelaskan hasil penelitian, pastikan bahwa yang dibahas sesuai dengan tujuan dan ruang lingkup penelitian.  Menulis hasil penelitian BUKAN HANYA menuliskan angka-angka saja atau BUKAN HANYA menampilkan data kuantitatif saja. Pahami apa makna dari angka-angka tersebut sehingga anda mampu menjelaskan aspek kualitatif dari hasil penelitian yang anda lakukan. Penjelasan aspek kualitatif inilah yang diinginkan dari hasil penelitian.
  4. Kesimpulan. Buatlah kalimat kesimpulan yang efektif yang  menjelaskan tujuan penelitian, metode serta hasil penelitian.
  5. Saran. Kenali kekurangan sistem dan sampaikan pada bagian ini.

Selain hal-hal substansi yang harus diperhatikan, sebaiknya perhatikan juga sisi keindahan dari presentasi yang dibuat. Perhatikan pemilihan warna, jenis font, pemilihan gambar dan komposisi objek. Mintalah pendapat orang lain mengenai hal ini, terutama jika selera anda “agak” berbeda dengan selera kebanyakan orang hehhe….

Yang terkahir yang harus diperhatikan adalah cara berbicara. Intonasi, tempo, gaya bicara dan susunan kalimat harus diperhatikan dengan baik. Untuk yang satu ini sebenarnya bisa dilatih. Berlatihlah didepan cermin atau teman anda, sebelum anda presentasi. Pastikan bahwa penampilan anda pun nyaman dilihat.. :)

Semoga bermanfaat. Good Luck!

  

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil (Wahyono dan Shalahuddin, 2011). Indonesia memiliki keanekaragaman hayati lebih dari 38.000 spesies (Bappenas 2003). Pada tahun 2002, tercatat bahwa di Indonesia terdapat spesies tumbuhan obat sebanyak 22.500 dan jumlah spesies yang sudah digunakan sebagai tumbuhan obat sebanyak 1.000 spesies (Groombridge dan Jenkins, 2002). Ini berarti jumlah persentasi tumbuhan obat yang sudah dimanfaatkan sedikit sekali yaitu hanya sebesar 4.4 persen dari sumberdaya tumbuhan obat yang tersedia. Apa penyebabnya? Salah satunya penyebabnya adalah minimnya pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan obat. Jika hal ini terus menerus dibiarkan maka lambat laun tumbuhan obat ini akan punah.

Berdasarkan permasalahan ini, kami dari Lab keilmuan Kecerdasan Komputasional Departemen Ilmu Komputer IPB (Dr. Yeni Herdiyeni dan Ir. Julio Adisantoso, M.Komp) bersama dengan staf pengajar dari Departemen KSHE Fahutan IPB (Prof. Evrizal Amzu dan Ellyn K. Damayanti, Ph.D Agr), sejak dua tahun yang lalu mencoba melakukan penelitian bersama dengan mahasiswa untuk mengembangkan sebuah teknologi tepat guna yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mencari informasi dan membantu melakukan identifikasi tumbuhan obat. Aplikasi ini dibangun dengan menggunakan teknologi Computer Vision dan Search Engine. Selain mengembangkan aplikasi berbasis web, kami juga melakukan penelitian untuk mengembangkan aplikasi mobile tumbuhan obat menggunakan Android yang kami berinama MedLeaf. Informasi selengkapnya bisa anda baca di : http://cs.ipb.ac.id/~labci/MedLeaf.htm.

Semoga Bermanfaat.

Saga Univ, 20 Desember 2011


Menjadi seorang dokter, itu impian saya dulu sejak lulus SD sampai SMA. Bermula dari PMDK IPB waktu itu yang mengubah haluan saya dan menggiring saya menjadi seperti sekarang ini. Alhamdullilah semuanya saya syukuri.. :). Perjalanan waktu pulalah yang akhirnya membawa saya ke negeri matahari terbit ini hingga akhir tahun 2011 ini. Disinilah saya kembali teringat impian saya dulu menjadi dokter. Alasannya karena selama di Saga Univ ini saya melakukan riset mengenai deteksi kanker Paru/lung cancer. Sama sekali bukan hal yang mudah untuk mempelajari lung cancer. Selain saya bukan seorang dokter, saya baru pertama kali mendalami riset ini. Terlebih lagi saya harus mempelajarinya dengan buku teks berbahasa Jepang..  saya sempat bilang ke sensei, “Sensei, I read this book like I read a comic. Just see the pictures… :p”.

 

But the show must go on.. Saya tetap harus mengerti kanker ini sebelum bisa membuat program. Berbagai macam jurnal dan paper saya pelajari sehingga akhirnya Alhamdullilah saya pun bisa memahami sedikit mengenai kanker ini. .. :). Berdasarkan referensi yang saya baca lung cancer itu dibagi 2 yaitu Small Cell Lung Carcinoma (SCLC) dan Non Small Cell Lung Carcinoma (NSCLC). Ada tiga tipe kanker NSCLC yaitu Large Cell Carcinoma, Squamous Cell Carcinoma dan Adenocarcinoma. Kalau melihat gambarnya dari buku, memang sulit sekali membedakan jenis-jenis kanker tersebut.

Setelah mempelajari jenis kanker, selanjutnya saya harus memodelkan kanker tersebut sehingga komputer mampu mengenali kanker. Yang terbesit pertama kali dalam benak saya setelah membaca beberapa referensi, salah satu yang dapat membedakan kanker yaitu tekstur. Saya mencoba mengekstraknya dengan menggunakan Local Binary Pattern. Selanjutnya saya merepresentasikan CT image tersebut kedalam representasi 2D dan mengklasifikasikannya dengan menggunakan PNN (Probabilistic Neual
Network). Upsss…. hasilnya kurang memuaskan…. :(.

Sensei kasih saran “please read this book.. and try to use 3D representation…. “. ..Okelah sensei…siap..

Untung buku ini dalam bahasa Inggris. Yup.. saya pun membaca buku tersebut khususnya visualisasi 3D untuk medical image. Baca, ngoding, baca lagi, ngoding lagi… begitulah keseharian saya. Tapi tidak untuk sabtu dan minggu… itu saatnya menjernihkan pikiran dari buku dan koding… :p.. Saatnya weekend sama si Canon ..hehehe

Setelah lebih kurang 1 bulan memperlajari visualisasi 3D,  akhirnya CT image kanker itu bisa juga direpresentasikan dalam bentuk 3D.  Saya mencoba mengunakan Volume Local Binary Pattern. dimana setiap slice CT image tersebut direpresentasikan dalam 3 bidang XY, XT dan YT.

Setelah merepresentasikan CT image kedalam 3D, selanjutnya adalah melakukan pembelajaran sistem. Tiga hari lamanya saya melakukan proses training data. Selesai dengan dengan training, tibalah saatnya testing… duh..deg2an juga gmana hasilnya.. Well … yes.. akurasinya jauh lebih baik… :)

Masih belum puas rasanya dengan hasil. Akhirnya dengan sedikit modifikasi pada representasi Volume LBP, yaitu dengan membagi citra menjadi beberapa blok, akurasinya meningkat .. Yes!!

Begitulah sepenggal kisah saya Sesaat menjadi dokter.. :)..

Diakhir kegiatan ini Alhamdulilah bisa menyelesaikan satu buah paper yang saat ini masih menunggu review dari sensei.. :). Alhamdullilah..

Pernahkah anda dipusingkan dengan spam di account email anda..? pastinya anda dibuat tak nyaman dengan adanya spam ketika membuka email. Terkadang walaupun sudah menggunakan software spam filter untuk mendeteksi spam, masih saja ada spam yang lolos masuk kedalam account kita. Belum lagi jika spam filter tersebut malah justru menyaring email yang bukan spam.. Tentunya email tersebut tidak akan masuk kedalam inbox kita.

Sofware spam filter pun memerlukan bantuan pengguna untuk menuliskan daftar spam atau memberi tanda pada email spam. Makanya tidak heran jika spam tersebut belum ada didalam daftar, maka spam itu akan lolos masuk kedalam inbox. .. :)

Hmm… adakah solusi lain untuk mendeteksi spam email ..??

Coba anda bayangkan spam email adalah virus atau bakteri yang bisa masuk kedalam tubuh manusia. Tubuh kita tidak diberi daftar virus/bakteri oleh Tuhan. Bayangkan betapa repotnya kita jika harus selalu mengupdate daftar virus/bakteri itu secara periodik … :p

Jadi bagaimana tubuh manusia bisa mengenali virus/bakteri yang berbahaya bagi tubuh dan membunuh kuman tersebut sehingga tidak mengganggu kesehatan manusia…? Jawabnya ada pada keajaiban sistem imunitas (immune system).

Imunitas adalah kemampuan daya tahan tubuh untuk melawan penyakit atau melawan infeksi dengan melawan substansi asing yang masuk kedalam tubuh seperti mikroorganisme (bakteri, virus, protozoa dan kuman), parasit seperti cacing dan sel kanker. Mikroorganisme ini disebut dengan patogen (infectious agents).

Cara kerja sistem imunitas adalah sebagai berikut: Patogen (infectious agents) bila mengintervensi tubuh mula-mula akan berhadapan dengan elemen sistem imunitas natural (innate). Bila sistem immune natural ini dapat dirusak, patogen akan berhadapan dengan sistem imun adaptif yang bereaksi secara spesifik untuk mengeliminasi dan menghancurkan patogen. Sistem imun adaptif menghasilkan imun memori untuk memberi reaksi sejenis yang lebih baik pada infeksi atau intervensi patogen yang sama berikutnya.

Sistem imunitas terdiri dari tiga lapisan. Lapisan pertama terdapat pada permukaan tubuh yang terdiri dari kulit membran mukosa (mucosal membrane), sekresi alami dan bakteri alami yang berfungsi melawan infeksi . Lapisan kedua adalah sistem imunitas non-spesifik (innate immune system). Lapisan kedua berfungsi untuk melawan infeksi yang mampu menembus pertahanan lapis pertama. Pada lapisan ini terdapat fagosit, macropage system, protein complement, fever, interferon, sitokinin dan inflamasi. Lapisan ketiga yaitu sistem imunitas spesifik atau adaptive immunitiy. Lapisan ini melibatkan dua jenis sel darah putih (limfosit) yang dihasilkan disumsum tulang belakang. Limfosit yang sudah matang akan berubah menjadi limfosit B (sel B) sedangkan yang belum dewasa akan menuju kelenjar timus dan terdeferensiasi menjadi imfosit T (sel T). Pada lapisan ini terdiri dari B-cell (humoral) dan T-Cell (cell-mediated).

Lapisan pertama dan lapisan kedua tidak dapat mengenali benda asing. Lapisan ini berperan sebagai lapisan pertahanan pertama terhadap invasi substansi asing masuk kedalam tubuh.

Lapisan tiga atau sistem imunitas spesifik/adaptive inilah yang dapat mengenali benda asing yang masuk kedalam tubuh. Sistem imunitas ini berkembang karena diinduksi/distimulasi oleh intervensi subtansi benda asing yang masuk kedalam tubuh. Substansi yang menginduksi imunitas spesifik disebut dengan antigen. Sistem imunitas spesifik atau adaptif dapat menghancurkan patogen yang lolos dari sistem kekebalan non-spesifik. Sifat dasar dari sistem imunitas spesifik yaitu menghasilkan “immune memoryyang mampu memberikan respon lebih efektif pada infeksi berikutnya. Bagian inilah yang mampu menyimpan informasi antigen yang pernah masuk sehingga bisa mengenali antigen tersebut dan dan akhirnya membunuh antigen tersebut ketika masuk kedalam tubuh sehingga tubuh dapat terlindungi.

Yang berperan pada sistem imunitas adaptif adalah sel T (imunitas selular) dan sel B (imunitas humoral). Jika ada benda asing masuk kedalam darah, maka sel B akan membelah dan berdeferensiasi menjadi sel B memori dan sel Plasma. Sedangkan sel T akan berdeferensiasi pada sel timus dan menghasillkan 4 sel  yaitu sel T penolong (sel T helper), sel T penekan, sel T sitotoksik dan sel T memori.

Sel B memiliki imunoglobin pada permukaannya yang dapat digunakan untuk mengenali  suatu antigen. Sel plasma akan terbentuk jika sel B telah berhasil mengidentifikasi antigen dan akan mensekresikan antibodi ke seluruh tubuh. Sel T yang telah matang (dewasa) akan berkembang menjadi beberapa jenis sel T yang dapat mengenali antigen.

Proses pengenalan antigen oleh sel B dan sel T inilah yang menginspirasi para peneliti untuk menemukan algoritme sistem imunitas buatan (artificial immune algorithm) untuk menyelesaikan masalah komputasi. Kemampuan sel B dan sel T untuk membuat sel memori menjadi insiprasi yang sangat berharga untuk membuat sistem bersifat adaptif terhadap munculnya antigen baru yang masuk kedalam tubuh sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan benda asing tersebut. Mekanisme inilah yang menginspirasi agar sistem mampu mendeteksi spam secara otomatis dan bersifat adaptif. Subhanallah…

Bagaimana mekanisme tersebut bekerja..? ..Nantikan buku yang sedang saya rampungkan mengenai Keajaiban Biologi – Inspirasi Algoritme… :)

Semoga bermanfaat…

Dalam menjalankan ibadah seperti sholat, kita dianjurkan untuk melakukannya dengan tumaninah. Mengapa sholat harus tumaninah? tujuannya adalah agar menjadi khusuk dan fokus pada Allah. Caranya adalah dengan melakukan gerakan sholat yang sempurna dan membaca serta memahami bacaan sholat

Apa sih manfaatnya khusuk? manfaatnya agar pikiran menjadi tenang dan damai sehingga pikiran akan lebih konsentrasi, tindakan kita akan diringi dengan kesadaran tinggi, dan kita bisa mengendalikan pikiran kita. Dengan demikian pikiran kita akan terpusat pada pikiran yang kita pilih dan akan menghasilkan energi yang luar biasa. Itulah sebagian manfaat dari sholat yang rutin kita kerjakan..

Mengapa Allah memerintahkan hambanya sholat? tentunya karena Allah menginginkan kebaikan bagi hambanya. Sholat seyogianya memberikan manfaat besar kepada seluruh kehidupan manusia.

Lalu, apakah ajaran tumaninah pada sholat berkaitan dengan aktifitas kita sehari-hari..??

Ketika pulang tadi sore sambil mengendarai mobil, saya berpikir mengapa terkadang saat kuliah kita sulit memahami materi atau tidak bisa menjawab soal pada saat ujian?  saya juga berpikir mengapa harus melakukan rapat berjam-jam dan berkali-kali dan tidak menghasilkan kesepakatan yang paling baik??? mungkin karena aktivitas ini tidak kita lakukan dengan tumaninah..

Contoh saja, ada mahasiswa yang pada saat kuliah terbiasa membuka laptop, walaupun dosen sedang menerangkan didepan kelas, atau ada kebiasaan pegawai atau staf yang membuka laptop pada saat rapat dan melakukan aktifitas yang lain pada laptopnya.

Saya mencoba mengkaitkan ajaran sholat dengan aktifitas tersebut. Saya membayangkan betapa Allah maha pengasih dan penyayang karena sudah mengajarkan umatnya untuk melakukan sholat min 5 kali dalam sehari, apa tujuannya..?? sebagiannya adalah agar terbiasa untuk bisa tumaninah dan khusuk.

Pada saat kuliah kita jelas melihat dosen secara fisik, dan pada saat rapat kita juga melihat pimpinan atau rekan rapat secara nyata.. tapi pada saat sholat kita dilatih untuk “melihat” dan merasakan hal yang tidak terlihat secara fisik yaitu Allah… Jika saja dengan sholat kita bisa khusuk dan tumaninah dengan baik, insha allah untuk kuliah dan rapat bisa lebih mudah karena fokus utamanya jelas terlihat…

Sebuah artikel senada juga pernah saya baca. Artikel ini saya kutip dari Detik.com

Jakarta – Tahukah Anda mengapa meeting selalu berlarut-larut, menjemukan dan hasilnya cenderung tak optimal? Ternyata salah satu penyebabnya adalah karena peserta meeting membawa laptop (ataupun blackberry dan smartphone)! Kok bisa?

Berikut ini 5 (lima) alasannya, berdasarkan pengalaman penulis + sejumlah contoh kasus yang tersedia di Internet:

  1. Meeting dengan seluruh atau sebagian besar peserta membawa laptop, akan berdampak pada semakin minimnya komunikasi non-verbal antar peserta rapat. Bahasa non-verbal, adalah komponen tak terpisahkan dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan sesama manusia, bahkan antar mahluk hidup. Anggukan kepala, picingan mata, gerak bibir, posisi duduk, letak tangan, adalah hal yang paling penting untuk mengukur tingkat perhatian (ketertarikan) peserta meeting, pemahaman dan lainnya. Meeting pun menjadi berlarut-larut
  2. Saat pihak lain sedang melakukan presentasi gagasan atau laporannya, maka kecenderungan peserta meeting lainnya yang membawa laptop akan lebih sibuk mengutak-atik materi presentasi masing-masing. Ini adalah akibat dari ketidaksiapan untuk menghadiri meeting, atau minimnya waktu yang tersedia untuk melakukan persiapan tersebut. Menyiapkan ataupun merapihkan materi presentasi saat meeting tengah berlangsung,adalah salah satu bentuk kerja yang kontra-produktif.
  3. Peserta meeting dengan membawa laptop cenderung akan lebih berinteraksi dengan laptopnya, ketimbang dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya untuk mengusir kebosanan saat meeting, maka mereka akan bermain game, hingga chatting, browsing ataupun blogging apabila ada akses Internet. Walhasil, pihak yang sedang presentasi tidak akan mendapatkan respon yang interaktif. Feedback dari peserta meeting pun menjadi minim, yang akhirnya berdampak pada tidak matangnya output yang dihasilkan.
  4. Juga dengan adanya akses Internet, maka peserta meeting yang membawa laptop akan cenderung membentuk kelompok kecil eksklusif secara online, yang anggotanya adalah sebagian dari peserta meeting tersebut. Kelompok kecil ini akan membuat diskusi terpisah, melalui fitur messenger, dengan konten diskusi yang bisa jadi tidak konstruktif. Bentuknya pun beragam, bisa sekedar saling melempar joke, sampai membicarakan (dalam konteks negatif) pihak yang sedang melakukan presentasi, materinya ataupun peserta meeting yang lain.
  5. Meeting seharusnya adalah sebuah bentuk koordinasi ataupun integrasi antar unit/divisi, atau bisa juga sebagai akselerasi ataupun sinkronisasi. Tetapi yang terjadi, ketika peserta meeting membawa laptop, maka dia bisa tergoda untuk melakukan pekerjaan pararel, semisal diselingi dengan menggarap kerjaan lainnya yang tertunda karena harus menghadiri meeting. Aktifitas pararel, bukan berarti dapat berpikir ataupun menganalisis sesuatu secara parerel. Karena otak sejatinya akan berpikir dengan berlompat-lompat, “pause” di satu hal, dan “play” di hal lain. Sehingga buah pikir yang dihasilkan cenderung menjadi tidak optimal lantaran tidak fokus.

Artikel ini merupakan bagian dari tulisan pada penelitian disertasi saya. Saya coba sarikan untuk teman-teman yang ingin mempelajari image retrieval. Semoga bermanfaat.

MENGENAL SEMANTIK CITRA – BAGIAN I

Ketika kita mengamati sebuah lukisan yang didalamnya terdapat gunung, air yang mengalir, pepohonan, dan burung yang sedang terbang, kita mengenal lukisan ini adalah lukisan pemandangan. Kemampuan manusia untuk mengenali gambar tidak terlepas dari pengalamannya melihat berbagai jenis gambar sehingga mampu membedakannya satu sama lain. Setelah menghubungkan satu objek dengan objek lainnya, maka kita baru bisa menjelaskan tema gambar atau melakukan penafsiran (interpretation) gambar. Interpretasi tema/konsep citra disebut dengan semantik citra.

Gambar atau citra memiliki karakteristik visual yang terdiri dari warna, bentuk dan tekstur. Pengenalan pada tahap karakteristik visual disebut dengan persepsi. Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung terhadap sebuah objek berupa karakteristik visual tanpa melakukan interpretasi.

Jika saja sistem computer memiliki kemampuan seperti manusia dalam menejelaskan semantic citra, maka dapat dipastikan kita dapat mencari gambar digital yang disimpan dalam computer dengan mudah. Namun, kemampuan manusia menjelaskan semantik citra dengan cepat, bukan hal yang sederhana untuk dilakukan oleh komputer. Sudah banyak penelitian dalam bidang image retrieval dikembangkan untuk membuat komputer mampu menjelaskan semantic citra. Dalam banyak penelitian, karakteristik citra seperti warna, bentuk dan tekstur digunakan untuk pencarian citra. Pencarian citra melalui karakteristik citra disebut dengan content-based image retrieval (CBIR).

Pengenalan citra dimulai dengan melakukan ekstraksi ciri (feature extraction), yaitu mengenali citra berdasarkan karakteristik citra. Berdasarkan hasil survey [], perkembangan penelitian CBIR dalam hal ekstraksi ciri dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu berbasis global (global-based), berbasis regional (region-based) dan berbasis lokal (local-based).

Global-based

Pengenalan citra berbasis global menggunakan informasi seluruh bagian citra. Salah satu metode berbasis global-based yang banyak paling banyak digunakan adalah histogram warna []. Namun metode ini memiliki kelemahan yaitu hanya menghitung frekuensi piksel citra sehingga sangat sensitive terhadap perubahan cahaya dan geometris. Akibatnya dua buah citra yang memiliki warna dan posisi geometris yang berbeda akan dikenali sebagai dua buah citra yang berbeda, walaupun secara semantic kedua citra tersebut sama. Perhatikan Gambar dibawah ini:

Dengan pendekatan berbasis global, maka kedua citra tersebut akan dikenali sebagai citra yang berbeda.

Region-based

Pada dasarnya manusia mengenali citra berdasarkan objek yang dikandung pada citra tersebut. Oleh karena itu kemudian berkembang pendekatan regional dimana citra disegmentasi menjadi beberapa regional yang merepresentasikan objek.

Namun metode ini juga memiliki kelemahan, yaitu pada saat segmentasi citra. Sampai saat ini belum ada teknik segmentasi citra yang dapat melakukan segmentasi dengan baik. Hasil segmentasi seringkali tidak sesuai dengan objek yang diinginkan. Perhatikan gambar di bawah ini:

Local-based

Oleh karena itu untuk mengatasi masalah segmentasi pada pendekatan regional, kemudian berkembang pendekatan lokal. Pada pendekatan ini citra dibagi menjadi beberapa blok citra yang berukuran sama. Dengan demikian pada pendekatan lokal tidak membutuhkan segmentasi.

Namun pada pendekatan lokal, setiap blok citra tidak memiliki makna. Akibatnya pendekatan lokal tidak mampu menjelaskan hubungan konseptual antar blok citra.

Adanya permasalahan tersebut, maka pendekatan lokal berkembang menjadi pendekatan bagian (part-based). Pada pendekatan bagian akan, akan dideteksi bagian-bagian penting dari citra yang mampu menjelaskan semantik citra. Pendekatan ini disebut juga dengan pendekatan generative. Berikut contoh dari pendekatan bagian.

Untuk mendapatkan bagian penting citra, pendekatan generative menggunakan teori Bayes. Dengan teori bayes, tanpa melakukan segmentasi citra, pendekatan bagian dapat mendeteksi bagian penting citra.

Sumber :

1. Datta, R., Joshi, D., Li, J dan Wang, J. (2007). Image Retrieval: Ideas, Influences, and Trend of the New Age. ACM Transaction on Computing Survey.

2. Bimbo, A. (1999). Visual Information Retrieval. Morgan Kauffman

3. Rui, Y., Huang, T. S., dan Chang, S. F. (1999). Image Retrieval: Current Techniques, Promising Direction, and Open Issues. Journal of Visual Communication and Image Representation, 10(1), 39-62.

4. Smeulders, A. W. M. , et al. (2000). Content-based Image Retrieval at The End of The Early Years. IEEE PAMI, 22(12), 1349-1380

5. Zhang, Y. J. (2003). Content-based Visual Information Retrieval. Beijing, China: Science Publisher.

Hari-hari mempersiapkan ujian kualifikasi adalah hari-hari yang menyenangkan sekaligus juga menegangkan…:) Setidaknya selama tiga minggu ke depan saya akan melalui hari-hari seperti itu. Ini merupakan ujian kedua dari lima kali ujian yang harus saya lalui (Proposal, Kualifikasi, Seminar, Ujian Hasil Pembahasan dan Promosi). Fuih… masih panjang nih ceritanya…:p. Oleh sebab itu Tak aneh memang jika ujian ini cukup membuat aku kerja keras untuk mempersiapkannya. Apalagi setelah melihat dosen pengujinya …hmmmmm….

25 April 2008 adalah tanggal yang dijadwalkan untuk ujian kualifikasi (semoga tidak diundur lagi…Amin). Konon kata orang hari jumat adalah hari baik… moga hari baik juga untuk saya..:).

Salah seorang teman yang juga senasib sepenanggungan, menyarankan saya untuk membaca artikel yang ditulis oleh Dr. Andrew Broad Seorang dosen yang membagikan pengalamannya menjalani ujian selama menjadi PhD student…. Artikel itu berjudul “Nasty PhD Question Viva Questions..”. Artikel itu sangat menarik dan membantu saya setidaknya mengurangi ketegangan saya…:).

Semoga bermanfaat juga untuk Anda..:)

 

Download : nasty-phd-viva-questions.pdf

 

 

Next Page »